Surabaya (beritajatim.com) – Tim pengabdian masyarakat dari Teknik Biomedis Universitas Airlangga (Unair) mengusung program Desa Wisata Sehat di Desa Hendrosari, Menganti, Gresik. Program ini bertujuan menekan angka stunting dengan pendekatan teknologi dan kesiapsiagaan warga.
Kegiatan ini untuk menjawab data stunting di Gresik yang masih di atas target nasional. Pada 2022, angkanya mencapai 10,7 persen, sedikit lebih tinggi dari target 10 persen. Selain itu, pencatatan data kesehatan ibu dan anak di Posyandu setempat masih dilakukan secara manual, yang dinilai kurang efisien.
Tim Unair menjawab tantangan ini dengan menebar edukasi gizi seputar 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kemudian, mengintegrasikan teknologi digital untuk pencatatan kesehatan berbasis aplikasi Android, serta meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat melalui pelatihan basic life support (BLS) bagi kader dan warga.
“Tujuan utama kami adalah menekan stunting dengan memanfaatkan teknologi digital, sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap kondisi darurat kesehatan,” ujar Koordinator Program, Fitriyatul Qulub, S.T., M.T., Jumat (22/8/2025).
Program ini diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dua materi inti. Prof. Dr. Prihartini Widiyanti, drg., M.Kes., S.Bio., CCD., menyampaikan materi tentang gizi 1.000 HPK sebagai solusi anti-stunting. Sementara itu, Dr. Fanni Okviasanti S.Kep., Ns., M.Kep., memberikan pelatihan BLS untuk orang awam.
Dalam kegiatan ini, tim Unair memperkenalkan aplikasi SIBA (Sistem Informasi Kesehatan Ibu dan Anak) yang terintegrasi langsung dengan puskesmas. Aplikasi ini memuat data gizi, imunisasi, dan pemantauan ibu hamil secara digital.
Selain itu, setiap Posyandu di Hendrosari kini dilengkapi dengan stunting kit (timbangan digital, mikrotoise) dan nurse kit (tensimeter, termometer inframerah). Kader juga mendapatkan pelatihan intensif tentang penggunaan alat-alat tersebut hingga simulasi BLS.
Program ini menargetkan peningkatan akurasi pencatatan kesehatan hingga 90 persen dan mempercepat respons kegawatdaruratan sebesar 30 persen. Tim berharap Hendrosari bisa menjadi percontohan desa wisata sehat yang memiliki layanan kesehatan berbasis data akurat dan kader yang sigap.
Program ini merupakan wujud nyata implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan Indikator Kinerja Utama (IKU), yang melibatkan dosen dan mahasiswa lintas disiplin untuk berkontribusi langsung di masyarakat. [ipl/kun]






