Surabaya (beritajatim.com) – Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Samijali produsen jajanan kripik sermier di bekas Lokalisasi Dolly, Surabaya mengalami kelesuan usaha, akibat sepi pesanan.
Dalam riwayatnya pada 2014, UMKM Samijali ini produknya pernah tembus ekspor ke Luar Negeri Belanda, Jerman, Singapura, setelah sukses dibina Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, waktu itu.
Pemilik Samijali, Roro Dwi Prihatin mengatakan, produknya kini sepi peminat tak seperti dulu lagi. Terlebih, setiap bulannya harus dibebani dengan pengeluaran biaya untuk membayar listrik dan air.
“Sekarang belum ada yang menghubungi kontak order, aku sekarang ngontrak, setiap bulan bayar listrik padahal belum ada orderan,” kata Roro hari Kamis (20/2).
Roro menyampaikan, laba dalam satu bulan dulu pada tahun 2015-2017, bisa mencapai Rp27 juta. Namun, omset yang perlahan anjlok mulai dirasakan setelah pergantian pemimpin wali kota, serta berkurangnya support dari pemerintah saat ini.
“Dulu pertama booming itu satu bulan laba Rp27 juta, tahun 2015, 2016, 2017 itu dibantu GMH (Gerakan Menulis Harapan) dari Kampus ITS. Kalau dulu Bu Risma tamu pemkot itu dikasih batik, sandal dan Samijali. Tapi sekarang Pak Eri nggak begitu,” jelas dia.
Oleh karena itu, Roro berharap Pemkot Surabaya memberikan perhatian lebih kepada UMKM di eks lokalisasi Dolly agar mereka dapat tetap bertahan dan berkontribusi bagi perekonomian keluarga. Selain itu, dia juga menyoroti banyaknya UMKM makanan di Eks Lokalisasi Dolly tersebut yang terpaksa gulung tikar.
“Kami tidak mati tapi masih ada. Kami tetap disurvei lewat kelurahan dan kecamatan serta dinas dinas tanya sekaligus membuat laporan kenapa sepi. Tapi setelah itu tidak ada tindak lanjut. Barang kali ada kunjungan tamu dari daerah bisa saya libatkan,” tutup Roro. [ram/ian]






