Jakarta (beritajatim.com) – Setelah berbulan-bulan dinanti pasar global, bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akhirnya memangkas suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin menjadi 4,25% pada September 2025.
Langkah ini menjadi sinyal kuat perubahan arah kebijakan moneter global yang kini lebih fokus pada pemulihan ekonomi ketimbang pengendalian inflasi.
Menurut Ezra Nazula, Director & Chief Investment Officer – Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), pemangkasan tersebut memang sudah diantisipasi pasar karena melemahnya sektor tenaga kerja dan tekanan pemerintah agar The Fed lebih tanggap terhadap kondisi ekonomi.
“Yang menarik bukan hanya pemangkasannya, tetapi proyeksi The Fed sendiri yang menunjukkan rencana penurunan suku bunga lebih cepat dan besar dari perkiraan sebelumnya,” jelas Ezra.
“The Fed kini lebih fokus menstabilkan lapangan kerja dibanding menahan inflasi, yang selama ini jadi alasan utama mereka belum menurunkan suku bunga.”
Kebijakan The Fed Masih Bergantung Data Ekonomi
Meski ada pemangkasan, Ezra menilai arah kebijakan ke depan masih bergantung pada data ekonomi terbaru, terutama inflasi dan ketenagakerjaan.
“Belum ada kesepakatan bulat di internal The Fed. Dari 17 anggota, sembilan memproyeksikan dua kali pemangkasan lagi tahun ini, sementara delapan lainnya memperkirakan hanya satu kali. Jadi keputusan berikutnya akan sangat data-dependent,” ujarnya.
Sementara itu, dampak kenaikan tarif impor AS yang sempat melonjak hingga 18% pasca “Liberation Day” pemerintahan Trump dinilai belum terasa signifikan karena pelaku impor sempat menimbun stok dengan tarif lama. Namun, Ezra memperingatkan efeknya akan muncul dalam beberapa bulan ke depan.
“Ketika stok barang murah itu habis, barulah masyarakat mulai merasakan tekanan harga. Konsumsi bisa menurun, dan efek domino-nya ke sektor tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi pun bisa terjadi,” tambahnya.
BI Turunkan Suku Bunga Lebih Dulu dari The Fed
Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) justru lebih cepat mengambil langkah dengan memangkas suku bunga acuan (BI Rate) ke level 4,75% — sehari sebelum keputusan The Fed diumumkan. Langkah ini cukup mengejutkan pasar, terutama karena nilai tukar rupiah masih bergejolak.
“Berbeda dengan AS yang masih khawatir soal inflasi, BI lebih leluasa menurunkan suku bunga karena inflasi kita stabil dan suku bunga riil masih tinggi,” ujar Ezra.
“Namun transmisi penurunan BI Rate ke bunga kredit dan deposito belum optimal karena likuiditas pasar masih ketat.”tambahnya.
Ezra menambahkan, kombinasi pemangkasan suku bunga dan injeksi likuiditas pemerintah diharapkan mulai mempercepat penurunan suku bunga kredit sehingga ekonomi bisa bergerak lebih cepat. Bahkan, MAMI memperkirakan masih ada peluang satu kali lagi penurunan BI Rate sebelum akhir tahun.
Dampak Stimulus Belum Terasa Penuh, Tapi Ada Tanda Positif
Sejumlah kebijakan pro-pertumbuhan seperti pemindahan dana pemerintah ke bank BUMN, stimulus “8-4-5”, dan penurunan suku bunga diharapkan memperkuat ekonomi nasional. Namun, Ezra menilai efek kebijakan tersebut baru akan terasa pada 2026.
“Transmisi kebijakan ke ekonomi riil memang butuh waktu sekitar 1,5 tahun. Tapi sejak BI mulai menurunkan suku bunga pada 2024, kita bisa berharap perbaikan bertahap mulai terlihat tahun depan,” jelasnya.
“Beberapa indikator tenaga kerja juga sudah mulai stabil, misalnya tingkat PHK yang menurun dan kenaikan peserta aktif BPJS Ketenagakerjaan dua bulan berturut-turut.”
Defisit Fiskal dan Pasar Obligasi: Masih Aman Selama di Bawah 3% PDB
Dengan rencana pemerintah menaikkan target defisit fiskal 2026 ke 2,68% dari PDB, pasar sempat khawatir akan peningkatan kebutuhan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). Namun, Ezra menilai kondisi ini masih terkendali.
“Selama defisit dijaga di bawah 3% dan pemerintah bisa menyeimbangkan penerbitan obligasi valas dengan obligasi ritel, risiko terhadap stabilitas fiskal masih aman,” katanya.
“Likuiditas perbankan yang meningkat juga membantu menyerap pasokan obligasi. Ini penting agar rating Indonesia tetap stabil dan investor asing tetap tertarik.”
Potensi Obligasi Masih Menarik
Meski imbal hasil SBN 10 tahun sudah turun ke bawah 6% — level terendah dalam empat tahun terakhir — Ezra menilai pasar obligasi Indonesia masih punya ruang penguatan.
“Potensi penurunan suku bunga BI, likuiditas yang tinggi, dan inflasi yang terkendali menjadi faktor pendukung,” ungkapnya.
“Spread antara tenor 5 tahun dan 10 tahun juga masih lebar, artinya masih ada peluang kurva imbal hasil akan bullish flatten.”
Ekonomi 2025 Mirip 2015: Tantangan Serupa, Harapan Sama
Menutup pandangannya, Ezra membandingkan kondisi ekonomi saat ini dengan situasi tahun 2015, ketika ekonomi global melemah dan Indonesia sedang dalam masa transisi pemerintahan baru.
“Dulu 2015 juga penuh tekanan, tapi respons kebijakan yang cepat berhasil membalikkan arah ekonomi pada 2016. Sekarang situasinya mirip — ekonomi global lemah, Indonesia sedang beradaptasi, tapi kebijakan pro-pertumbuhan sudah mulai jalan, Kalau sejarah berulang, tahun 2026 bisa jadi tahun pemulihan bagi Indonesia.”pungkas Ezra. (ted)






