Surabaya (beritajatim.com) – Indonesia menjadi lokasi uji klinis tahap tiga vaksin Tuberkulosis (TBC) yang dikembangkan oleh perusahaan vaksin asal Amerika Serikat dengan pendanaan dari Bill Gates. Uji coba ini dilakukan mengingat Indonesia merupakan negara dengan kasus TBC tertinggi kedua di dunia.
Keputusan ini menimbulkan kekhawatiran sebagian masyarakat terkait keamanan vaksin. Menanggapi hal tersebut, Pakar Imunologi dan virologi dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (Unair), Prof. Fedik Abdul Rantam menyatakan bahwa vaksin tersebut tergolong aman.
“Vaksin ini berasal dari protein tertentu yang diambil dari dua macam bakteri penyebab TBC yaitu Mycobacterium yang digabungkan. Tidak semua protein dapat diambil untuk digunakan sebagai vaksin, namun hanya protein tertentu yang dapat menginduksi antibodi sehingga vaksin ini disebut vaksin sub unit,” ungkap Prof Fedik, Rabu (21/5/2025).
Ia menjelaskan, vaksin sub unit yang digunakan mengandung protein M72, dengan antigen MTB 32A dan MTB 39A, yang dikombinasikan dengan adjuvant AS01E. Adjuvant ini berasal dari senyawa alami seperti lemak dan tanaman Quilla saponaria asal Chile untuk memperkuat respons imun tubuh terhadap infeksi TBC.
“Supaya efek menginduksi antibodi menjadi lebih kuat, maka vaksin ini diberi tambahan adjuvant berupa zat yang berguna untuk memperkuat respon imun tubuh terhadap infeksi TBC,” jelasnya.
Lebih lanjut, Prof. Fedik menilai vaksin ini relatif aman karena telah melewati dua tahap uji klinis sebelumnya.
“Vaksin yang baik seharusnya tidak memiliki efek samping yang muncul, namun seberapa jauh efek yang ditimbulkan? Apabila efeknya minimal seperti pusing, mual dan muntah dan dalam persentase minim maka seharusnya aman saja. Apabila terdapat kasus luar biasa seperti kematian atau masalah kesehatan serius tentunya proses uji coba harus segera dihentikan,” pungkasnya.
Uji klinis tahap tiga ini akan melibatkan peserta yang belum terinfeksi TBC untuk memastikan reaksi imun yang dihasilkan tidak bias. Pemerintah dan tim medis diharapkan terus melakukan pemantauan ketat selama proses uji coba berlangsung. [ipl/kun]






