Yogyakarta (beritajatim.com)- Meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi ancaman serius bagi kelestarian keanekaragaman hayati sekaligus memperburuk krisis iklim. Indonesia yang memiliki kawasan hutan hujan tropis dan gambut luas dinilai perlu memperkuat perannya dalam menjaga keseimbangan ekosistem global, bukan justru menjadi sumber emisi karbon akibat kebakaran.
Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai karhutla tidak cukup ditangani sebagai bencana lingkungan yang membutuhkan pemadaman darurat. Penanganannya harus disertai langkah pencegahan, pemulihan ekosistem, serta kebijakan pengelolaan lahan yang berlandaskan hasil penelitian ilmiah.
Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Dr. Eko Agus Suyono, menegaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan dapat menghilangkan fungsi ekologis suatu kawasan. Kerusakan tersebut tidak hanya menyangkut vegetasi, tetapi juga struktur tanah, habitat satwa, dan berbagai proses alam yang menopang kehidupan.
“Agar kebakaran serupa tidak terulang, diperlukan penguatan kapasitas kelembagaan dan regulasi mitigasi kebakaran hutan dan lahan secara permanen, bukan hanya respons saat darurat,” kata Eko dalam keterangan yang dikirim pada Senin (27/10).
Menurut dia, pemerintah perlu mengevaluasi tata kelola lahan secara menyeluruh sekaligus memastikan penegakan aturan pencegahan karhutla berjalan transparan dan akuntabel.
Upaya tersebut perlu didukung keterbukaan data ilmiah atau *open science*, serta pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan untuk membantu pemantauan dan mendeteksi potensi kebakaran sejak dini.
### Perkuat peringatan dini dan perlindungan gambut
UGM juga mendorong peningkatan anggaran negara untuk kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana. Selain dukungan pendanaan, kejelasan pembagian kewenangan dan koordinasi lintas sektor dari pemerintah pusat hingga desa dinilai penting agar pencegahan karhutla berjalan efektif.
Sistem peringatan dini berbasis data iklim dan hidrologi gambut perlu diperkuat untuk mengidentifikasi wilayah yang rentan mengalami kebakaran. Perlindungan ekosistem gambut juga harus menjadi prioritas, termasuk melalui pembasahan kembali lahan atau *rewetting* untuk menjaga kelembapan gambut.
Di tingkat masyarakat, penguatan kelembagaan masyarakat peduli api dan pemberian insentif bagi praktik pembukaan lahan tanpa bakar dinilai dapat menjadi bagian dari strategi pencegahan jangka panjang.
Langkah tersebut diperlukan agar penanganan karhutla tidak terus berulang dalam pola yang sama, yakni bergerak setelah api membesar tanpa cukup memperkuat pencegahan sejak awal.
### Kebakaran merusak kesuburan tanah dan melepas karbon
Dampak karhutla tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Suhu ekstrem selama kebakaran dapat merusak mikrobioma tanah, termasuk bakteri yang berperan dalam fiksasi nitrogen dan jamur mikoriza yang membantu tanaman menyerap unsur hara.
Kerusakan organisme tanah tersebut dapat mengganggu kesuburan lahan dan memperlambat pemulihan vegetasi. Pada ekosistem gambut, kebakaran juga berpotensi melepaskan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer sehingga memperparah pemanasan global.
Karena itu, pemulihan kawasan terdampak harus dilakukan secara terencana dengan mempertimbangkan karakteristik tanah, kondisi hidrologi, jenis vegetasi, serta fungsi ekologis kawasan sebelum terbakar.
Eko menilai restorasi berbasis sains menjadi kebutuhan mendesak agar rehabilitasi tidak sekadar mengejar penghijauan dalam waktu singkat. Penanaman vegetasi lokal dan penerapan bioremediasi dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki kondisi tanah pascakebakaran.
“Melalui pembasahan kembali gambut, revegetasi dengan spesies lokal, serta pemulihan mikrobioma tanah berperan dalam pemulihan siklus karbon,” ujarnya.
Pemulihan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya dekarbonisasi berbasis alam. Dengan mengembalikan fungsi ekosistem, kawasan hutan dan gambut diharapkan kembali mampu menyerap serta menyimpan karbon secara lebih optimal.
### Fakultas Biologi UGM siap terlibat dalam pemulihan
Fakultas Biologi UGM menyatakan siap berkolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk mendukung penanganan dampak karhutla melalui pendekatan lintas disiplin.
Dukungan yang disiapkan mencakup evakuasi, identifikasi, dan rehabilitasi satwa terdampak, penelitian formulasi mikroorganisme untuk pemulihan tanah pascakebakaran, serta penyediaan bibit unggul dari spesies lokal untuk restorasi hutan.
UGM juga membuka peluang pendampingan ilmiah dalam penguatan kelembagaan masyarakat, penyusunan regulasi mitigasi karhutla, serta pengukuran dan pemantauan stok karbon pada kawasan yang menjalani program restorasi.
Di sisi pendidikan, Fakultas Biologi UGM siap memperkuat kapasitas sumber daya manusia melalui kegiatan pendidikan, pelatihan, penelitian, dan pelibatan mahasiswa dalam aksi pemulihan ekosistem.
Bagi UGM, penanganan karhutla membutuhkan kerja berkelanjutan yang menghubungkan kebijakan pemerintah, hasil penelitian, dan partisipasi masyarakat. Dengan demikian, upaya pemulihan tidak hanya mengembalikan kondisi lingkungan yang rusak, tetapi juga memperkuat ketahanan ekosistem agar lebih siap menghadapi ancaman kebakaran pada masa mendatang.[aje]






