Ringkasan Berita:
- Hujan deras disusul angin kencang selama sekitar 15 menit menerjang sejumlah wilayah di Kabupaten Jombang pada Rabu (28/10/2026), sekitar pukul 16.00 WIB.
- Desa Katemas, Kecamatan Kudu, menjadi salah satu wilayah terdampak. Atap puluhan rumah dan sejumlah kios dilaporkan rusak, sementara beberapa pohon tumbang di tepi jalan.
- BPBD Jombang mencatat laporan dampak bencana di Desa Katemas, Plandaan, Megaluh, dan Pucangsimo. Pendataan kerusakan masih berlangsung dan hingga Rabu petang belum ada laporan korban luka maupun korban jiwa.
Jombang (beritajatim.com) – Sore itu, langit di kawasan utara Sungai Brantas, Kabupaten Jombang, mendadak muram. Awan hitam menggantung rendah, seolah hendak runtuh dari pelukan langit.
Tak ada yang menyangka, senja yang semula berjalan biasa itu akan berubah menjadi kepanikan ketika hujan deras dan angin kencang datang silih berganti, menerjang permukiman warga.
Di Desa Katemas, Kecamatan Kudu, hujan turun begitu deras, membasahi jalanan dan rumah-rumah warga. Sekitar 30 menit hujan mengguyur kawasan tersebut. Namun, hujan rupanya bukan satu-satunya ancaman yang harus dihadapi warga sore itu.
Sekitar pukul 16.00 WIB, angin kencang tiba-tiba datang menerjang. Hembusannya begitu kuat, bergulung-gulung membentuk pusaran putih yang membuat suasana berubah mencekam. Dalam hitungan detik, ketenangan desa seolah direnggut paksa.
Atap-atap rumah terangkat, lalu beterbangan diterjang amukan angin. Sejumlah kios tak luput dari terjangan. Pohon-pohon di tepi jalan tumbang, roboh dengan suara berdebam yang memecah suasana. Di tengah kekacauan itu, suara azan yang dikumandangkan warga terdengar menyelingi deru angin dan bunyi pepohonan yang bertumbangan.
Hanya sekitar 15 menit angin mengamuk. Namun, waktu yang singkat itu cukup untuk meninggalkan kerusakan di sejumlah sudut permukiman.
Rohman (42), warga setempat, masih mengingat bagaimana cuaca berubah begitu cepat. Sebelum angin kencang datang, hujan deras telah mengguyur desanya selama kurang lebih setengah jam.
Tak lama kemudian, angin berputar dengan kekuatan yang membuat warga waswas. “Anginnya sangat kencang. Puting bergulung-gulung,” tutur Rohman, Kamis (29/10/2026).

Bagi warga, sore itu bukan sekadar tentang hujan dan angin. Ada kecemasan ketika atap rumah terangkat, ada ketegangan saat pohon-pohon tumbang, dan ada kekhawatiran melihat kerusakan yang ditinggalkan setelah amukan angin berlalu.
Meski dampaknya cukup besar, Rohman memastikan bahwa sejauh yang diketahuinya, tidak ada warga yang mengalami luka-luka. Di tengah kerusakan yang terjadi, kabar tersebut menjadi sedikit kelegaan bagi masyarakat.
Hingga Rabu sore, warga masih bergotong royong melakukan pendataan terhadap rumah, kios, dan pepohonan yang terdampak. Jumlah pasti kerusakan belum diketahui. Warga juga telah berkoordinasi dengan pemerintah desa dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jombang untuk penanganan lebih lanjut.
Bencana itu ternyata tak hanya menyasar Desa Katemas. Supervisor BPBD Jombang, Stevy Maria, membenarkan adanya laporan kerusakan akibat angin kencang di sejumlah wilayah. Berdasarkan data sementara, sedikitnya empat desa di empat kecamatan terdampak kejadian tersebut.
Selain Desa Katemas di Kecamatan Kudu, laporan juga datang dari Desa Plandaan di Kecamatan Plandaan, Desa Megaluh di Kecamatan Megaluh, serta Desa Pucangsimo di Kecamatan Bandarkedungmulyo. “Untuk detail jumlah rumah yang terdampak masih dilakukan pendataan,” jelas Stevy.
BPBD Jombang terus menghimpun informasi dari seluruh wilayah terdampak untuk mengetahui tingkat kerusakan dan menentukan langkah penanganan yang diperlukan. Hingga Rabu petang, belum ada laporan mengenai korban luka maupun korban jiwa.
Kini, setelah angin berlalu, pekerjaan warga belum selesai. Kerusakan yang tertinggal masih harus didata, sementara rumah-rumah yang atapnya rusak perlu segera ditangani agar bisa kembali melindungi penghuninya.
Senja di Jombang sore itu mengajarkan betapa cepatnya keadaan dapat berubah. Dalam waktu singkat, hujan dan angin mampu merusak apa yang dibangun warga dengan susah payah.
Di tengah puing-puing dan atap yang beterbangan, keselamatan warga menjadi kabar paling melegakan, sementara upaya pendataan dan penanganan kerusakan kini menjadi harapan agar kehidupan dapat kembali berjalan seperti sediakala. [suf]






