Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) Malang kembali membuktikan komitmen nyatanya dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). International Conference on Sustainable Development Goals (ICSDGs) 2026 ini berpusat di Auditorium Algoritma Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UB, Kamis (11/6/2026).
Acara berskala internasional ini menjadi ruang perjumpaan strategis bagi para akademisi, peneliti, pengambil kebijakan, praktisi, mahasiswa, hingga pelajar dari berbagai belahan dunia. Mereka berkumpul untuk saling bertukar ide, menyelaraskan gagasan, dan memperkuat jejaring kolaborasi demi menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan di tingkat global.
Konferensi internasional ini didesain sebagai wadah dinamis bagi para peserta untuk berdiskusi seputar SDGs. Pendekatan yang ditekankan bertumpu pada kekuatan riset, inovasi mutakhir, serta jalinan kerja sama lintas sektor dan lintas negara.
Wakil Rektor Bidang Akademik UB, Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, M.P., dalam pidato sambutannya menegaskan, UB memegang komitmen penuh untuk menyukseskan agenda SDGs yang telah menjadi kesepakatan global. Menurutnya, UB memiliki posisi yang sangat krusial dalam menstimulasi perubahan lewat integrasi pendidikan, riset, inovasi, hingga program pengabdian kepada masyarakat.
“Universitas Brawijaya memastikan bahwa seluruh program kerja kami, baik di sektor akademik, penelitian dan inovasi, pembangunan masyarakat, serta program strategis lainnya, berjalan beriringan dan selaras dengan target pencapaian Sustainable Development Goals,” kata Prof. Imam.
Pakar teknologi pangan ini menjabarkan, ragam program yang digulirkan institusi terus diorientasikan untuk menopang implementasi SDGs di lapangan. Tak hanya itu, UB juga rajin membangun jembatan kolaborasi dengan berbagai mitra strategis, baik di level domestik maupun internasional. Langkah ini diambil untuk menelurkan solusi konkret atas problematika global yang polanya kian rumit.
“Universitas Brawijaya tetap konsisten mengintegrasikan prinsip-prinsip SDGs ke dalam setiap denyut aktivitas akademik dan institusional. Kami juga terus mendorong lahirnya kerja sama multidisiplin dengan lintas pihak untuk mengurai berbagai tantangan global,” sambungnya.
Di sisi lain, Ketua ICSDGs 2026, Fitri Hariana Oktaviani, S.S., M.Commun., Ph.D., membeberkan bahwa agenda tahun ini sengaja mengusung tema Sustainable Development in Times of Uncertainty: Resilience, Innovation, and Well-being. Tema ini dipilih bukan tanpa alasan, melainkan untuk menggarisbawahi betapa pentingnya faktor ketahanan, kreasi inovasi, dan tingkat kesejahteraan masyarakat di tengah dinamika global yang serba tidak menentu.
Menurut Fitri, antusiasme komunitas global terhadap ICSDGs 2026 kali ini sangat luar biasa. Tercatat ada 285 presenter dan 26 peneliti muda dari 15 negara yang ikut ambil bagian menyumbangkan pemikiran mereka. Negara-negara yang mengirimkan delegasinya antara lain Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Tiongkok, Jepang, Filipina, Thailand, India, Pakistan, Nepal, Nigeria, Azerbaijan, Inggris, Irlandia, hingga Turki.
“Konferensi ini menjadi ruang komunal bagi akademisi, peneliti, pembuat kebijakan, praktisi, dan mahasiswa untuk merajut kolaborasi nyata. Targetnya adalah menelurkan gagasan segar yang berkontribusi langsung pada pembangunan berkelanjutan,” papar Fitri.
Perempuan bergelar doktor ini juga menguraikan, ICSDGs 2026 kian solid berkat dukungan kerja sama internasional dengan deretan institusi mancanegara yang bertindak sebagai co-host. Mulai dari Academy of Applied Technical Studies Šumadija (Serbia), ISUFST (Filipina), MILA University (Malaysia), SRM University AP (India), hingga Universiti Teknikal Malaysia Melaka (UTeM) dari Malaysia.
Bahkan, tim Scientific Committee yang mengawal kualitas ilmiah konferensi ini melibatkan pakar-pakar dari Australia, Bangladesh, Brunei Darussalam, Filipina, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Serbia, dan Vietnam.
Sebagai forum ilmiah bereputasi, ICSDGs 2026 turut menggandeng sejumlah jurnal internasional dan nasional terakreditasi sebagai mitra publikasi resmi. Di antaranya JITeCS, Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Journal of Communication, Language and Culture (JCLC), AFSSAAE, serta Central Community Development Journal. Keterlibatan jejaring media publikasi ini diharapkan mampu mendiseminasikan hasil riset dan inovasi dari panggung konferensi secara lebih luas kepada publik global.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Pusat Sustainable Development Goals UB, Novia Lusiana, S.TP., M.Si., Ph.D., memaparkan bahwa UB bergerak cepat memperkuat implementasi SDGs melalui program-program taktis yang mengikat seluruh unit di lingkungan universitas.
Salah satu terobosan internal yang sudah diterapkan adalah pengembangan dashboard SDGs, sebuah sistem digital untuk memantau dan mengevaluasi capaian indikator keberlanjutan secara presisi dan berkala.
Di samping itu, UB juga getol mengawal gerakan keberlanjutan berbasis komunitas seperti UB Green Campus dan Kampung Lingkar Kampus. Program-program ini dirancang untuk memantik kepedulian dan keterlibatan langsung masyarakat sekitar dalam mendukung SDGs.
Bagi Novia, sukses tidaknya agenda besar ini bertumpu pada komitmen kolektif seluruh civitas akademika. “Keberlanjutan itu bukan sekadar angka atau target mati yang wajib dicapai, melainkan sebuah pola pikir (mindset) yang harus menuntun setiap keputusan yang kita ambil di kampus ini,” tegas Novia.
Sementara itu, Ketua Global Partnership and Reputation UB, Hendrix Yulis Setyawan, S.TP., M.Si., Ph.D., menyampaikan bahwa payung inisiatif yang digulirkan UB bertujuan mendongkrak tingkat kesadaran (awareness) seluruh warga kampus terhadap isu-isu lingkungan dan sosial.
“Mulai dari skema program penghargaan, penyusunan laporan keberlanjutan (sustainability report) di tingkat fakultas, hingga penyelenggaraan konferensi internasional ini, semuanya merupakan bagian dari kampanye masif. Kita ingin menyatukan frekuensi bahwa semua elemen kampus punya tujuan yang sama untuk SDGs,” tutur Hendrix.
Ia menambahkan data yang cukup mencengangkan, yakni dalam rentang lima tahun terakhir, civitas akademika UB telah memproduksi lebih dari 6.000 publikasi ilmiah bereputasi yang berfokus pada klaster SDGs. Kampus juga terus mematangkan cetak biru konsep Green Campus untuk mengukur sekaligus meningkatkan rapor keberlanjutan dalam sistem tata kelola perguruan tinggi.
Uniknya, panggung ICSDGs 2026 tidak hanya menjadi konsumsi para profesor atau peneliti senior. Forum ini juga memberi ruang bagi generasi muda di tingkat sekolah menengah. Salah satu potret menarik terlihat dari hadirnya Frezhida Valya Pualiyan, siswi berprestasi dari SMA Taruna Nusantara Malang, yang mengikuti seluruh rangkaian sesi diskusi dengan serius.
Frezhida mengaku memperoleh banyak pengalaman berharga selama menyelami atmosfer konferensi internasional tersebut. Menurutnya, ajang ICSDGs memberinya cakrawala berpikir yang lebih luas mengenai peta jalan SDGs dan pentingnya sinergi antarnegara dalam memecahkan persoalan global.
“Bagi saya pribadi, acara ini sangat keren dan memberikan banyak ilmu baru tentang SDGs serta mengapa kolaborasi global itu mutlak diperlukan. Hal yang paling membekas bagi saya adalah konferensi ini melibatkan partisipan dari sekitar 15 negara. Tiap pembicara menyodorkan sudut pandang yang berbeda, disesuaikan dengan latar belakang pengalaman dan dinamika riil di negaranya masing-masing. Saya pulang membawa banyak wawasan baru,” ungkap Frezhida optimistis. (dan/kun)






