Surabaya (beritajatim.com) – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan inovasi komposit seng oksida. Teknologi ini dirancang khusus untuk mengurai limbah cair beracun dari sektor industri maupun domestik.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Guru Besar Departemen Teknik Kimia ITS, Prof Dr Eng Kusdianto ST MSc Eng. Ia menyoroti pencemaran ekologis akibat penumpukan polutan organik di perairan nasional.
“Pengolahan yang tidak optimal menyebabkan akumulasi zat beracun di perairan tidak dapat didegradasi dengan baik,” kata Kusdianto, dikutip Minggu (26/7/2026).
Merespons masalah itu, Kusdianto menerapkan metode fotokatalis. Proses ini memanfaatkan reaksi material semikonduktor dengan energi cahaya untuk menghasilkan zat pengurai polutan organik.
Pembuatan material konvensional sering memakan waktu lama. Kusdianto lantas menggunakan teknik aerosol berupa pirolisis semprot untuk mengubah bahan baku cair menjadi partikel nano dalam satu tahap cepat.
“Kelebihannya terletak pada fleksibilitas. Kita bisa mengontrol temperatur reaktor sekaligus mengatur bentuk partikel material selama proses berjalan,” terangnya.
Bahan bakunya menggunakan seng oksida yang ketersediaannya melimpah. Senyawa ini diproses secara ramah lingkungan lewat perpaduan ekstrak pohon jati sebagai agen pereduksi.
Seng oksida tersebut lalu dikombinasikan dengan logam perak pada kadar lima persen. Paduan ini terbukti menghasilkan daya urai paling maksimal sekaligus ampuh membunuh bakteri air.
“Zat aktif yang dihasilkan akan langsung bekerja merusak dinding sel bakteri. Sitoplasma akhirnya bocor dan kuman pun mati,” ungkap Kusdianto.
Limbah organik kompleks akhirnya terurai cepat menjadi air dan karbon dioksida. Sistem reaksi termal ini juga dirancang sebagai filter penangkap emisi gas beracun dari sisa operasional pembangkit listrik.
“Proses pengolahan limbah ini tidak memerlukan tambahan pelarut kimia berbahaya. Sistemnya juga dijamin tidak memicu timbulan limbah baru,” paparnya.
Material komposit ini mencatatkan efisiensi hingga seratus persen saat diuji di bawah sinar matahari. Keberhasilan ini membuka jalan hilirisasi untuk pabrik tekstil dan pembangkit listrik berskala besar.
Saat ini, riset terus dikembangkan lewat kolaborasi bersama Hiroshima University, Jepang. Langkah lintas keilmuan tersebut diarahkan untuk menyempurnakan teknologi pengolahan air bersih ramah lingkungan. [ipl/aje]






