Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) kembali mengukuhkan empat guru besar baru lintas disiplin ilmu. Ada bidang ilmu teknik sumber daya air, ilmu kimia analitik dan material, bidang manajemen sumberdaya hutan dan lahan, dan ilmu ekonomi.
Prosesi pengukuhannya berlangsung pada Sabtu (14/10/2023) di Gedung Samantha Krida. Keempat guru besar yang dikukuhkan, yaitu Prof. Dr. Ir. Ussy Andawayanti, M.S., IPM., Prof. Akhmad Sabarudin, M.Sc., Dr.Sc., Prof. Cahyo Prayogo, S.P., M.P., Ph.D., dan Prof. Setyo Tri Wahyudi, S.E., M.Ec., Ph.D.
Prof. Ussy Andawayanti saat jumpa pers pada Jumat (13/10/2023), menyampaikan pidato pengukuhan berjudul ‘Kendalikan Genangan dengan USS-le’. Profesor aktif ke 21 di Fakultas Teknik (FT) ini membuat model pengendalian genangan dengan Urban Smart Solution Integrated-ecodrain (USS-Ie).
Model USS-Ie ditujukan untuk mengendalikan genangan akibat dinamika perubahan tataguna lahan secara cerdas di perkotaan hingga Zero RunOff. Model penanggulangan ini dilakukan secara terintegrasi dan berwawasan lingkungan.
“Model USS-Ie yang kami buat lebih efektif untuk segera tercapai Zero Runoff. Implementasi model ini dapat berhasil dengan sepenuhnya jika melibatkan pemerintah, masyarakat dan pihak terkait,” ujar Profesor aktif ke 184 di Universitas Brawijaya serta menjadi Profesor ke 343 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh UB ini.
BACA JUGA:
UDD PMI Pamekasan Terima 64 Kantong Darah dari IKA UB Malang
Selanjutnya, Prof. Akhmad Sabarudin, M.Sc berpidato tentang ‘Pengembangan Teknologi Nanomaterial Untuk Pemisahan dan Deteksi Biomolekul’. Profesor aktif ke 26 di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ini sukses mengembangkan teknologi nanomaterial yaitu monolit, polimer, organik nanopori, dan nanopartikel logam untuk pemisahan dan deteksi biomolekul.
“Saya mengaplikasikan nanopartikel pada media kertas sebagai perangkat diagnostik cepat (PDC) untuk deteksi virus Hepatitis B dan deteksi dini penyakit ginjal, keunggulan PDC ini bersifat portable, murah, handal, dan mudah digunakan oleh masyarakat umum,” kata Profesor aktif ke 185 di UB serta menjadi Profesor ke 344 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh UB ini.
Prof Cahyo Prayogo berhasil membuat alat untuk deteksi pengelolaan lahan dan hutan dengan pidaot berjudul ‘CLIMO 1 Rekam Kondisi Lahan secara Real Time’. Konsep teknologi ini meliputi pemanfaatan dan pengembangan teknologi data sensor (teknologi di bumi) yang dapat merekam kondisi hutan dan lahan di atas permukaan dan pada saat ini (real time).
“Pada saat yang bersamaan dilakukan monitoring data lapangan dari jarak jauh dengan citra satelit atau UAV (Unmanned Aerial Vehichle) (teknologi di angkasa). Penggunaan dan penerapan TCHL “CLIMO 1″ melalui uji coba di lapangan dapat menghasilkan data yang cukup akurat dan reliable,” terang Profesor aktif ke 32 di Fakultas Pertanian (FP), Profesor aktif ke 186 di UB dan menjadi Profesor ke 345 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh UB.

Ia menambahkan bahwa keunggulan teknologi ini adalah mengumpulkan data yang cepat dan akurat yang mendekati kondisi aktual di lapangan. Itu dapat mengantisipasi dampak negatif yang ditimbulkan dari kesalahan pengelolaan hutan dan lahan.
BACA JUGA:
IKA UB Malang Cabang Pamekasan Gelar Bhaksos Bidang Kesehatan
Terakhir Prof. Setyo Tri Wahyudi, S.E., M.Ec., Ph.D., menjelaskan soal ‘Model IDMF Sebagai Antisipasi Dampak Inflasi Pada Kebijakan Penyaluran Kredit Dan Persaingan’. Prof. Setyo merumuskan konsep yang dinamakan Model IDMF (inflation delusions management framework). IDMF sebagai bagian dari ilmu ekonomi moneter bertujuan untuk mengurangi terjadinya persepsi yang salah atau “distorsi” mengenai inflasi.
“Secara konsep jika barang murah , harusnya inflasi menurun. Tapi nyatanya, ketika harga menurun masyarakat kita semakin konsumtif. Uang beredar semakin meningkat. Ini mengakibatkan nilai mata uang menurun. Harga barang relatif mahal,” ungkap sebagai Profesor aktif ke 26 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) ini.
Keunggulan IDMF adalah bahwa kerangka ini memudahkan masyarakat dan pelaku ekonomi dalam membentuk persepsi mengenai inflasi secara benar. “Hal itu memberikan dampak yang positif pada kebijakan penyaluran kredit dan persaingan,” kata Profesor aktif ke 187 di UB serta menjadi Profesor ke 346 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh UB. [dan/beq]






