Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) tengah bersiap mencatatkan sejarah baru dalam kancah riset internasional. Kampus yang berbasis di Malang ini memantapkan langkahnya untuk mengajukan diri sebagai pemegang mandat UNESCO Chair on Integrated Ecohydrology and Water Security in Coastal Areas.
Langkah strategis ini ditandai dengan audiensi penting bersama Komite Pelaksana Intergovernmental Hydrological Programme (IHP) Indonesia Focal Point for UNESCO yang digelar di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, pada Jumat (12/12/2025). Pertemuan ini menjadi gerbang pembuka bagi UB untuk mendapatkan arahan teknis sekaligus dukungan resmi dalam proses pengajuan tersebut.
Pengajuan UNESCO Chair ini diinisiasi langsung oleh Pusat Studi Pesisir dan Kelautan (PSPK) UB. Di bawah komando Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Internasionalisasi, Prof. Andi Kurniawan, S.Pi., M.Eng., D.Sc., tim UB memaparkan kesiapan institusional yang matang. UB dinilai memiliki rekam jejak solid dalam riset pesisir yang bersifat lintas disiplin dan berkelanjutan.
Aulia Rahmawati, S.P., M.Sc., dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UB sekaligus Person in Charge (PIC) pengajuan ini, menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar formalitas administratif.
“UB mendukung penuh pengajuan Chair ini, tidak hanya di atas kertas, tetapi juga melalui pemenuhan sumber daya manusia, fasilitas penelitian, penguatan inovasi, pengabdian kepada masyarakat, hingga hilirisasi hasil riset,” tegas Aulia kepada beritajatim.com, Selasa (23/11/2025).
Menurutnya, PSPK UB selama ini telah menjadi ujung tombak universitas dalam isu-isu krusial seperti mitigasi bencana pesisir, inovasi akuakultur, hingga ekologi laut.
Salah satu poin paling menarik dalam audiensi tersebut adalah peluang UB untuk mengisi kekosongan peran strategis di tingkat global. Aulia menjelaskan bahwa pengajuan UB sangat linear dengan prioritas IHP, khususnya di bidang hidrologi.
“Secara lebih spesifik, UB fokus pada Coastal Hydrology, bidang yang hingga saat ini belum memiliki UNESCO Chair di tingkat global,” ungkapnya.
Jika pengajuan ini disetujui, Universitas Brawijaya berpotensi menjadi perguruan tinggi pertama di dunia yang secara khusus mengembangkan kajian hidrologi pesisir di bawah payung UNESCO. Hal ini menuntut UB untuk tidak hanya menyelesaikan masalah perairan lokal, tetapi juga berkontribusi pada solusi isu-isu pesisir global.
Apabila lolos sebagai UNESCO Chair, UB telah menyiapkan rencana kerja (work plan) terukur untuk durasi empat tahun dengan kewajiban pelaporan tahunan ke markas besar UNESCO di Paris.
Aulia memaparkan tiga fokus utama dalam rencana kerja tersebut. Pertama, capacity building, yakni meningkatkan ketahanan masyarakat pesisir, termasuk inovasi pengembangan tambak garam berkelanjutan.
Kedua, knowledge sharing, yakni memperkuat posisi Indonesia dalam forum IHP Regional Steering Committee Asia Pacific. Ketiga, policy impact, yaitu menyusun naskah kebijakan berbasis sains (science-based policy brief) untuk perencanaan tata kelola pesisir nasional.
Audiensi tersebut disambut hangat oleh Direktur Eksekutif Komite Pelaksana IHP Indonesia, Prof. Dr. Ir. Edvin Aldrian, B.Eng., M.Sc., dan Sekretaris Eksekutif Dr. Sepiani Putiamini, S.Si., M.Si. Keduanya mengapresiasi inisiatif UB karena dinilai sejalan dengan mandat strategis IHP yang kini mengusung pendekatan transdisipliner dengan mengintegrasikan sains alam, sosial, hingga partisipasi masyarakat. (dan/kun)






