Ponorogo (beritajatim.com) – Ratusan tukang becak di Kabupaten Ponorogo sumringah. Sebanyak 200 becak listrik bantuan Presiden Prabowo Subianto resmi disalurkan kepada para penarik becak.
Di mana penerima ini mayoritas lanjut usia (lansia), sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan sekaligus meringankan beban kerja mereka.
Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Ketua Umum Yayasan Gerakan Solidaritas Nusantara (GSN), Nanik S. Deyang. Program ini menjadi bentuk perhatian nyata Presiden Prabowo Subianto terhadap para pekerja sektor informal yang masih bertahan di usia senja.
Becak listrik yang diberikan memiliki spesifikasi daya cukup besar, namun tetap ramah untuk penggunaan listrik rumah tangga. Dalam sekali pengisian daya, kendaraan seharga sekitar Rp 22 juta itu mampu beroperasi selama 5 hingga 6 jam, tergantung beban pemakaian di lapangan. Nanik S. Deyang menegaskan, bantuan ini lahir dari kepedulian Presiden Prabowo terhadap para tukang becak lanjut usia yang masih harus mengandalkan tenaga fisik di jalanan.
“Pemberian becak ini adalah hati nurani presiden, beliau tidak tega melihat orang Indonesia terutama yang sudah sepuh di atas 60 tahun tapi masih mengayuh becak di jalanan. Artinya menggunakan tenaganya. Bahkan bukan hanya 60 tahun, ada pembecak usianya 105 tahun. Ada di Probolinggo, Malang, Jember,” ungkap Nanik, usai acara pemberian becak listrik di Pendopo Pemkab Ponorogo, Senin (9/2/2026).
Menurutnya, banyak tukang becak tetap bekerja di usia senja. Mereka melakukan itu bukan karena pilihan, melainkan tuntutan kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Selain itu, juga tidak hanya pilihan lain.
“Kadang-kadang sudah sepuh. Tapi mereka tidak ada pilihan lain. Mau mencari nafkah dari mana, mereka tidak mau diam di rumah, mereka ingin di hari tuanya berguna, kemudian Pak Prabowo mencari solusi,” lanjut Nanik.
Dia menjelaskan, bantuan diberikan dalam bentuk alat usaha. Sehingga bukan uang tunai, agar manfaatnya berkelanjutan. Nanik khawatir jika dikasih uang, tidak punya jiwa dagang dan tidak mengerti soal usaha.
“Takutnya misalnya dikasih uang cash, gak semua punya jiwa dagang, tifak semua mengerti usaha, kan uangnya malah hilang. Sehingga bagaimana mereka tetap produktif bisa usaha, bisa mencari nafkah tapi tidak dengan menggunakan tenaga untuk memudahkan mereka mencari nafkah. Kalau dulu ngontel dua kali saja sudah berat banget, sekarang dengan becak listrik bisa 5 sampai 10 kali tidak,” katanya.
Nanik juga menegaskan bahwa becak listrik tersebut tidak boleh diperjualbelikan. Dia meminta aparat kepolisian dan kejaksaan untuk ikut mengawasi.
“Tidak boleh dijual, karena apapun ini hadiah. Bagaimana Dia harus tetap berusaha, karena mereka ingin berarti di usia tua. Becak ini menjadi alat untuk beliau-beliau. Terkadangkan selain bisa digunakan beliau, juga bisa anaknya. Agar tidak diperjualbelikan,” tegasnya.
Plt. Bupati Ponorogo, Lisdyarita, menyampaikan apresiasi atas perhatian Presiden terhadap warganya. Dia menyebut mayoritas penerima bantuan merupakan lansia yang selama ini menggantungkan hidup dari mengayuh becak konvensional.
“Warga kami mendapatkan bantuan 200 becak listrik. Kebanyakan merupakan lansia, dan terkadang terkendala mengayuh becak. Mereka mencukupi kebutuhan sehari-hari dari mengayuh becak dan kadang lelah ngos-ngosan mengayuhnya. Dengan bantuan becak listrik ini, sehingga hari ini mereka senang. Mereka terima kasih banyak, presiden sangat luar biasa,” ungkapnya.
Program bantuan 200 becak listrik di Ponorogo ini menjadi simbol bahwa usia bukan penghalang untuk tetap produktif. Dengan teknologi yang lebih ringan dan efisien, para tukang becak lansia kini memiliki kesempatan meningkatkan jumlah perjalanan tanpa harus kelelahan berlebih.
“Sangat terbantu sekali. Dulu mengayuh berat, sekarang jauh lebih ringan. Rasanya enak banget, empuk, dan tidak capek,” ungkap Supardan, salah satu tukang becak di Ponorog. (end/ted)






