Tuban (beritajatim.com) – Saat ini, komunitas memiliki pengaruh besar terhadap sebuah perubahan. Tak hanya bagi bisnis saja. Namun, juga memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap lingkungan.
Seperti yang dilakukan oleh Tuban Creative Hub. Sejak tahun 2015, komunitas tersebut berdiri lantaran merasa miris terhadap kondisi Kabupaten Tuban. Salah satunya, yakni permasalahan sampah di Pantai Cemara.
“Saat itu, pantainya penuh dengan sampah. Kami ingin menyelesaikan permasalahan tersebut, sebelum merambah ke pemerataan ilmu dan life skill ekonomi kreatif. Dengan jumlah 13 orang, kami berusaha menyelesaikan permasalahan mengenai sampah itu,” terang inisiator Tuban Creative Hub, Kemal Khoirur Rahman.
Gerakan yang semula diinisiasi oleh Khoirur dan timnya, akhirnya diikuti oleh 43 komunitas lain yang berbeda. Anak-anak muda tersebut berbondong-bondong untuk membersihkan kondisi pantai.
“Kondisi pantai sepanjang dua kilometer akhirnya bersih dalam waktu tiga bulan. Goal-nya tercapai, akhirnya kita melihat ada poin kedua yaitu pemerataan ilmu, life skill tentang ekonomi kreatif layaknya ilmu-ilmu fotografi, videografi, sendiri rupa, seni pertunjukan dan seterusnya 17 subsektor ekonomi kreatif itu ternyata masih belum merata di desa-desa,” jelas dia.

Pelan tapi pasti, Tuban Creative Hub akhirnya berkolaborasi dengan pentahelix yang terdapat di kawasan tersebut. Belum lama ini, mereka baru selesai mengerjakan RAD (Rencana Aksi Daerah) dan Renstra (Rencana Strategis) Ekonomi Creative Tuban 2022-2026.
“Kami diamanahi oleh Disbudparpora Kabupaten Tuban untuk mengerjakan Rencana Aksi Daerah (RAD) dan Renstra (Rencana Strategis) sekaligus. Dalam proses itu kami melakukan Urun Rembug Ekraf (Ekonomi Kreatif) 2022,” papar dia.
Saat ini, pihaknya juga sedang mengerjakan project yang berkaitan dengan penyusunan Rencana Induk Ekraf Kabupaten Tuban bersama ICCN (Indonesia City Creative Network).
“Namun, tetap diselingi kegiatan-kegiatan biasa kami, layaknya rel besar kita ada di 3 Inkubator yaitu Inkubator Hobi, Inkubator Wirausaha, dan Inkubator Desa. Kami harus menjalankan ketiga inkubator itu untuk menghidupkan ekosistem yang nyaman dan kondusif bagi Ekonomi Kreatif di Kabupaten Tuban,” papar dia.
Berkaitan dengan gebrakan yang akan dibuat kedepan, pihaknya sesegera mungkin masuk ke pembentukan komite ekonomi kreatif. Sebab, hal tersebut bisa menjadi ujung tombak dimana sinergi Pentahelix yang nyata itu berada di komite ekonomi kreatif.
“Jadi gebrakan yang terdekat adalah mengeksekusi Komite Ekonomi Kreatif agar bisa mengawal ketat terwujudnya RAD, Renstra dan Rencana Induk Ekonomi Kreatif Kabupaten Tuban,” kata dia.
[berita-terkait number=”3″ tag=”showup”]
Ke depan, mereka akan fokus dalam Rencana Aksi Daerah (RAD) dan Renstra (Rencana Strategis). Terdapat 43 Renstra dengan 260 kegiatan yang memang sudah sangat rinci.
“Kami berharap, ke depan bisa kolaborasi untuk mewujudkan Rencana Aksi Daerah (RAD) dan Renstra (Rencana Strategis) yang mengacu kepada Rencana Induk di Nasional maupun di Provinsi seperti itu,” kata dia.
“Jadi harapan kami kita bisa membuat legacy, kita bisa mewariskan ekosistem ekonomi kreatif yang nyaman bagi generasi berikutnya gitu sih. Jadi walaupun kita tidak bisa menikmati hasilnya secara Infrastruktur, Non-Infrastruktur dan Ekosistem tidak apa-apa yang penting kita menjadi perintisnya untuk generasi berikutnya. Seperti itu untuk menjawab point kelima,” tandas dia. (ted)
=================
Konten Kerjasama beritajatim.com dengan Ngalup Collaborative Network
Ngalup Coworking Space yang saat ini bertransformasi menjadi Ngalup Collaborative Network, adalah wadah bagi para talent, stakeholders, dan berbagai lini bisnis untuk kolaborasi dan berjejaring. Kami menyadari kebutuhan akan perubahan dan tantangan zaman yang semakin berkembang, menjadikan Ngalup tidak hanya sebagai tempat melainkan fasilitator.






