Pasuruan (beritajatim.com) – Operasi pencarian besar-besaran tengah dilakukan di area bekas tambang Dusun Beringin untuk menemukan Muhammad Sofa Alfian (13) yang dilaporkan hilang misterius. Remaja asal Desa Jeladri tersebut tenggelam dalam genangan air galian C yang sangat dalam saat sedang bermain bersama rekan-rekannya pada Senin sore.
Kepanikan sempat menyelimuti lokasi kejadian lantaran informasi tenggelamnya korban baru diketahui warga dua jam setelah insiden berlangsung. Hal ini terjadi karena teman-teman korban yang berada di lokasi merasa ketakutan luar biasa dan memilih pulang tanpa berani bercerita kepada orang dewasa.
Kepala Desa Jeladri, Nur Tinggal, mengungkapkan bahwa keterlambatan laporan tersebut menjadi kendala awal dalam proses penyelamatan. “Korban diduga terpeleset saat bermain, dan karena teman-temannya tidak bisa berenang, mereka panik hingga langsung lari pulang tanpa melapor,” jelasnya, Selasa (10/3).
Tim BPBD Kabupaten Pasuruan bersama para relawan sebenarnya telah melakukan penyisiran hingga tengah malam di sekitar genangan air tersebut. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil karena terbatasnya alat penerangan dan kondisi medan bekas tambang yang cukup ekstrem.
Faktor keselamatan petugas juga menjadi pertimbangan utama mengapa pencarian sempat dihentikan sementara pada Senin malam. Kendala teknis di lapangan membuat tim memutuskan untuk mengatur ulang strategi pencarian agar lebih efektif saat matahari mulai terbit.
Dini hari ini, operasi pencarian dilanjutkan kembali dengan kekuatan personel yang lebih besar guna menyisir titik-titik terdalam di dasar genangan. “Rencananya tim penyelam dari Basarnas akan dikerahkan ke lokasi untuk mempercepat proses penemuan korban,” tambah Nur Tinggal dalam keterangannya.
Area bekas galian C tersebut memang dikenal memiliki kedalaman yang tidak menentu sehingga sangat berisiko bagi siapa saja yang beraktivitas di sekitarnya. Pihak berwenang mengimbau warga agar menjauhkan anak-anak dari lokasi rawan tersebut guna menghindari kejadian serupa terulang kembali.
Keluarga dan warga sekitar kini hanya bisa menunggu dengan penuh harap di pinggiran lubang tambang sambil menyaksikan petugas bekerja. Kasus ini menjadi pengingat keras bagi para orang tua di wilayah Winongan untuk lebih memperketat pengawasan terhadap area bermain anak-anak mereka. (ada/ian)






