Banyuwangi (beritajatim.com) – Akhir pekan lalu, salah satu Tempat Pembuangan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) di Banyuwangi mendapatkan plakat Adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH). TPS 3R itu berada di Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi.
Plakat Adipura adalah salah satu kriteria penghargaan pada Anugerah Adipura. Penghargaan tersebut diserahkan kepada kabupaten/kota, yang memiliki lokasi yang mendapat nilai tertinggi nasional salah satunya untuk kategori TPS 3R terbaik.
Usai melalui 20 kriteria penilaian, TPS 3R Muncar mendapatkan nilai tertinggi se-Indonesia. Di antara nilai plus dari TPS 3R Muncar, telah melakukan pengelolaan sampah dengan mekanisme sistematis, serta adanya keterlibatan aktif 7.500 warga desa dalam mendukung program persampahan melalui iuran warga.
“Terima kasih kepada semua warga dan juga pengelola TPS 3R, yang telah gigih dan berkomitmen dalam melakukan pengelolaan sampah. Mengapresiasi apa yang diraih TPS 3R Muncar, pemkab memberikan “hadiah” gerobak sampah motor kepada pengurus,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Senin (11/3/2024).
Penanganan sampah di Muncar ini diawali dari warga Desa Tembokrejo yang membuat TPS 2016. Pada 2018, pemerintah Norwegia bersama korporasi Borealis dari Austria melibatkan NGO Systemiq untuk melakukan pendampingan masyarakat di sana, yang diberi nama Project STOP.
Melalui program ini warga diedukasi mengelola sampah secara profesional, dengan mengadaptasi sistem sirkular. Sampah rumah tangga dipilah, lalu dikelola di TPS3R.
Pengelolaan sampahnya kini telah berjalan mandiri dan sustainable, di bawah pemerintahan desa. Bahkan TPS 3R Muncar ini setiap bulannya rutin ekspor plastik daur ulang ke berbagai negara. Di antaranya ke Austria sebanyak 8 ton, dan Malaysia sebanyak 6 ton setiap bulannya.
“Kami terus mendorong tumbuhnya TPS 3R di banyuwangi, saat ini sudah ada 19, ke depan terus kita perbanyak. Kita juga ada TPS Balak berkapasitas 84 ton/hari yang mengcover 5 kecamatan, hasil kerjasama dengan Norwegia juga. Bahkan, dalam waktu dekat di Banyuwangi akan berdiri pabrik pengolahan plastik low value pertama di Indonesia,” terang Ipuk.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH), Dwi Handayani, TPS 3R Muncar telah memiliki Sertifikat Kredit Plastik, yakni mekanisme insentif yang diberikan kepada organisasi pengumpul dan pendaur ulang plastik, yang dikeluarkan oleh lembaga internasional Verra.
Sertifikat Kredit Plastik merupakan instrumen keuangan baru untuk memberi insentif pada penghapusan plastik dari lingkungan, termasuk daur ulang plastik menjadi produk baru dan kemasan.
“Untuk bisa mendapatkan kredit ini tiap institusi wajib mengumpulkan atau mendaur ulang sampah plastik sebanyak 1 ton metric plastik. Prosesnya juga harus menerapkan metode berkelanjutan. TPS 3R Muncar sudah memenuhinya,” urai Yani.
Adanya sertifikat ini memberi dua keuntungan utama, yakni mengurangi pencemaran sampah plastik, dan mengembangkan industri daur ulang sampah plastik. “Pelaku industri yang tidak mampu mengelola sampah plastik, dapat bekerjasama dengan industri daur ulang sampah plastik untuk mendaur ulang sampah. Tentunya berbiaya. Ini akan menambah pendapatan TPS,” jelas Yani.
Selain itu, Banyuwangi juga mendapatkan Piala Adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH) atas kesuksesannya dalam pengelolaan sampah daerah. (rin/kun)






