Surabaya (beritajatim.com) – Fenomena Citayam Fashion Week telah merambah ke berbagai daerah tak terkecuali di Surabaya. Para muda-mudi di Surabaya lalu mengadopsi konsep Citayam Fashion Week dan mengaplikasikan di Jalan Tunjungan dengan judul Tunjungan Fashion Week.
Munculnya fenomena ini membuat pro kontra di kalangan masyarakat, khususnya pada peserta pria yang menggunakan aksesoris, baju dan bertingkah seperti perempuan.
Menanggapi fenomena tersebut, Ketua Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Jawa Timur mengatakan jika masyarakat harus bisa membedakan konteks orientasi seksual (LGBT) dengan kebebasan berekspresi.
“Sedikit banyak hubungannya dengan konstruksi sosial. Misal laki-laki berdandan perempuan itu konstruksi sosial. Manten Jawa itu yang perempuan kembenan yang cowok kembenan. Tapi karena kontruksi sosialnya memungkinkan jadi orang tidak bingung,” ujarnya saat dikonfirmasi Beritajatim.com lewat panggilan telepon.
Baginya, apa yang dilakukan oleh laki-laki dengan berdandan perempuan merupakan kebebasan berekspresi. Kecuali, jika definisi LGBT sudah melanggar seperti pesta seks maka hal tersebut harus dilarang. Ia berpendapat, jika transgender sekalipun merupakan manusia yang mempunyai hak hidup yang sama dalam berekspesi.
[berita-terkait number=”5″ tag=”fashion-week”]
“Iya tidak masalah seharusnya, (pria yang bergaya perempuan di TFW, red). Kita itu mengeliminasi para transgender. Kan kasian mereka, sekolah tidak boleh, bekerja nda ada yang menerima, mereka terpaksa harus mengamen. Kalo mengamen ga cukup harus melacurkan diri. Kita tahu, misalnya kerja di salon, para desainer hebat. Jadi saya kira itu perdebatan yang tidak produktif. Kecuali, LGBT itu definisinya pesta seks begitu itu baru keliru,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Jawa Timur, Arnold Panjaitan mengingatkan Pemerintah Kota Surabaya untuk mengawasi ketat kegiatan tersebut supaya tidak mengarah ke hal yang negatif. Menurutnya, para pria yang bergaya perempuan ini memang kreatif dalam gaya busana.
“Memang bencong-bencong ini kreatif dalam yang namanya tata busana. Makanya, yang namanya fashion itu mereka lebih menonjol. Ketika bicara fashion, seperti di Perancis itu perancang busananya banyak yang LGBT. Profesi itu memang didominasi oleh kalangan LGBT atau bencong,” ujar Arnold.
Arnold mengatakan, dalam dunia seni itu tidak ada batasan, segala sesuatu bisa terjadi dan disebut dengan karya dan terkadang diluar cara berpikir orang awam. Hal tersebut, kata dia, merupakan tugas Pemkot Surabaya untuk mengakomodir ke arah positif.
“Surabaya kan punya Dewan Kesenian, seberapa jauh pemerintah peduli dan memelihara seniman-seniman, itu kan yang jadi pertanyaan. Artinya, ketika hari ini masyarakat punya inisiatif mengeluarkan kreatifitas mereka, tugas pemerintah ini bagaimana mengakomodir kreatifitas ini menjadi sesuatu yang positif,” tambahnya.
Sementara data menurut Lembaga survey Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 10-17 Mei 2022 kemarin terhadap seluruh warga Indonesia dengan rentang usia 17 tahun ke atas terkait penilaian publik warga Indonesia terhadap LGBT. Hasilnya, 44,5 persen yang menyatakan setuju untuk menghargai LGBT sebagai sesama manusia. Sedangkan, 49,3 persen publik Indonesia tidak setuju menilai LGBT sebagai perilaku manusia. Sisanya, 6,2 persen menyatakan tidak tahu atau enggan memberikan jawaban. (ang/kun)






