Madinah (beritajatim.com) – Jemaah haji Indonesia melaksanakan ibadah salat Jumat pertama di Masjid Nabawi, Madinah, pada masa operasional haji 1447 H yang jatuh pada Jumat, 24 April 2026 hari ini. Mengingat tingginya antusiasme jemaah internasional dan kondisi cuaca yang menantang di Kota Nabi, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) memperketat protokol perlindungan diri bagi ribuan tamu Allah guna memastikan keselamatan serta kekhusyukan ibadah di tengah suhu udara yang terus meningkat.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Haji Center (MHC) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, suasana di sekitar Masjid Nabawi sudah mulai dipadati jemaah sejak pagi hari. Para petugas dari berbagai sektor telah bersiaga di titik-titik strategis untuk mengarahkan jemaah, terutama rombongan dari Jawa Timur dan embarkasi lainnya yang baru tiba, agar mendapatkan saf salat yang aman dan memadai.
Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Madinah, Khalilurrahman, mengingatkan seluruh jemaah untuk mewaspadai sengatan panas matahari saat menuju masjid. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) menjadi syarat mutlak bagi jemaah yang hendak beraktivitas di luar hotel.
“Jangan lupa membawa alat pelindung diri, baik itu payung, kemudian masker, kemudian membawa semprotan, membawa minuman, dan sandal,” ucap Khalilurrahman di Madinah, Kamis (23/4/2026).
Manajemen Alas Kaki dan Keselamatan Fisik
Satu aspek krusial yang ditekankan Kadaker adalah pengelolaan alas kaki. Jemaah dilarang keras menyimpan sandal di loker penyimpanan luar masjid. Hal ini berkaca pada banyaknya kasus jemaah yang lupa posisi meletakkan sandal karena banyaknya jumlah pintu di Masjid Nabawi, yang berisiko membuat jemaah terpaksa berjalan tanpa alas kaki saat keluar masjid.
Kondisi lantai pelataran masjid yang terpapar sinar matahari langsung sangat panas dan berisiko menyebabkan kaki jemaah melepuh seketika. “Sandal supaya dimasukkan dalam kantong plastik kemudian dimasukkan dalam tas dan dibawa, jangan ditinggal karena pintu masuk Masjid Nabawi jumlahnya banyak. Potensi jemaah lupa meletakkan sandalnya,” jelas Khalilurrahman.
Jika terjadi kehilangan atau lupa posisi sandal, jemaah diminta untuk tidak nekat keluar area masjid ke jalanan aspal. “Jika ternyata memang jemaah lupa menempatkan sandalnya, supaya tidak keluar dari area Masjid Nabawi, cari petugas, nanti petugas di area Masjid Nabawi sudah punya stok sandal,” tambahnya.
Strategi Keberangkatan dan Keamanan Dokumen
Mengingat kapasitas dalam Masjid Nabawi biasanya sudah terisi penuh oleh jemaah dari berbagai negara pada pukul 11.00 Waktu Arab Saudi (WAS), jemaah Indonesia disarankan untuk berangkat lebih awal. Waktu keberangkatan ideal yang direkomendasikan adalah pukul 10.00 atau paling lambat 10.30 WAS.
Selain ketepatan waktu, Kadaker juga mewajibkan jemaah untuk bergerak secara berkelompok atau beregu, minimal 10 orang. Hal ini bertujuan agar jemaah bisa saling membantu jika ada yang lupa jalan kembali ke hotel atau mengalami kendala fisik. Identitas diri seperti kartu hotel dan Kartu Nusuk wajib selalu melekat pada badan jemaah.
“Jangan lupa untuk ketika ke masjid jangan sendiri-sendiri, upayakan beregu 10 orang supaya nanti ketika mereka keluar tidak lupa hotelnya, ada yang membantu,” pintanya.
Petugas Linjam (Perlindungan Jemaah) yang disiagakan 24 jam di sekitar masjid dan sektor hotel juga siap memberikan bantuan jika diperlukan. Jemaah diimbau tidak sungkan mendekati petugas resmi yang menggunakan seragam Kemenhaj RI untuk meminta bantuan atau informasi. “Jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada petugas. Banyak petugas yang menggunakan seragam seperti ini,” pungkas Khalilurrahman. [ian/but]






