Pasuruan (beritajatim.com) – Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan terkenal dengan gudangnya buah durian. Hal ini terbukti ada tiga desa yang sering menjadi jujukan para pecinta durian, yakni Desa Ambalsari, Tempuran, dan Kemiri.
Seperti yang dikatakan salah satu petani durian, Jumadi (44) yang berasal dari Dusun Klitik, RT 02 RW 03, Desa Ambalsari, Kecamatan Parepan. Dirinya memiliki lahan pohon durian seluah setengah hektare, yang ditumbuhi 20 pohon durian.
“Ada 20 pohon durian, usianya hampir mencapai 50 tahun, karena dulu yang menanam kakek saya. Sekarang lahan duriannya saya yang meneruskan, satu tahun panennya sampai dua kali,” jelas Jumadi.
Jumadi juga menjelaskan bahwa penanaman pohon durian bisa dilakukan oleh semua orang, namun penanamannya gampang-gampang susah. Selain memilih bibit unggul, pohon durian juga hanya bisa bertahan hidup diwilayah dataran tinggi.
Lalu masa panen durian juga terbilang lama jika ditanam mulai dari biji. Petani bahkan harus menunggu sampai 10 hingga 15 tahun biar bisa melakukan pemanenan durian.
Sehingga tak banyak petani durian yang melakukan metode stek tumbuhan untuk mempersingkat waktu panen. Petani yanh melakukan metode stek tumbuhan hanya memerlukan waktu lima sampai enam tahun guna menikmati buah duriannya.
“Petani juga harus pintar milih bibit, karena banyak penjual bibit durian yang menipu pelanggannya. Dia bilang bibit durian montong, tapi sewaktu tumbuh bukan durian montong, tapi hanya durian biasa,” lanjut Jumadi.
Mengetahui hal tersebut, Jumadi berinisiatif untuk melakukan penanaman bibit duriannya sendiri. Bahkan bibit durian yang berusaha dia kembangkan saat ini mulai diperjual belikan dengan harga relatif.
Bibit durian yang dibesarkan mulai dari biji dia jual dengan kisaran harga Rp 10.000 hingga Rp 15 ribu dengan ukuran 80 sampai 100 centimeter. Sedangakan bibit yang dibesarkan dengan metode stek dijualnya dengan harga Rp 45.000 hingga Rp 50.000 pertangkai bibitnya.
Namun, pengembangan bibit durian ini sampai saat ini masih belum ada sentuhan dari pemerintah Kabupaten Pasuruan. Bahkan untuk urusan pupuk, para petani hanya bisa mengambil limbah kotoran ternak seperti kambing dan sapi untuk dijadikan pupuk.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pasuruan”]
Bahkan sampai saat ini para petani durian masih kebingungan untuk membasmi ulat durian yang membuat buah durian busuk dari dalam. “Jadi kalau ulat durian itu dari luar gak kelihatan lubang, tapi pas dibelah itu dalamnya busuk. Sampai saat ini masih belum ada obatnya,” keluh Jumadi.
Jumadi berharap untuk kedepannya pemerintah Kabupaten Pasuruan lebih memperhatikan para petani durian. Sehingga bisa membuat Kabupaten Pasuruan semakin dikenal dengan durian lokal yang mempunyai daya saing di nasional. [ada/but]








