Surabaya (beritajatim.com) – Bullying merupakan sikap atau tindakan tidak menyenangkan yang dilakukan terhadap seseorang yang dianggap lemah. Kondisi seperti ini jika terus dibiarkan tentu dapat membuat mental hingga fisik korbannya menjadi terganggu.
Sebenarnya bullying terbagi menjadi beberapa tipe. Hal ini berdasarkan cara yang dilakukan pelaku terhadap korban. Pertama, ada verbal bullying. Tipe ini kerap menyakiti orang lain dengan cara mengucapkan kata-kata yang kasar, menyinggung, hingga merendahkan.
Kedua, social bullying. Hampir sama dengan verbal bullying yang cenderung menggunakan bahasa untuk menyakiti orang lain. Namun, social bullying lebih ke ranah sosial.
Di mana pelakunya kerap mempermalukan dan menyebarkan rumor tidak benar tentang korban. Bahkan ia jua tak segan untuk menghasut orang lain agar turut membenci.
Ketiga, tipe cyber bullying. Orang dalam katagori ini melakukan aksinya melalui media sosial. Bisa dengan cara menyebarkan opini, gambar, hingga melakukan spam bernada kebencian. Dalam beberapa kasus, pelaku dalam tipe ini bahkan tidak mengenal secara langsung korbannya.
Terakhir, physical bullying. Tipe yang satu ini cenderung lebih parah. Tidak hanya menyakiti secara psikis, melainkan juga melukai fisik seseorang secara langsung. Hal ini terjadi karena pelaku melakukannya dengan kekerasan.
Terlepas dari itu, para korban sebenarnya tetap bisa melawan para pelaku bullying. Bahkan tanpa menggunakan kekerasan. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan, di antaranya;
Regulasi emosi
Para korban bullying yang dianggap lemah, justru harus tampak lebih kuat dari perkiraan pelaku. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengatasinya ialah dengan regulasi emosi. Setidaknya jangan mudah terpancing. Terlebih dengan menunjukkan respon reaktif.
Jaga jarak
Menjaga jarak dengan pelaku bullying merupakan cara yang tepat untuk melindungi diri sendiri. Tak hanya dari emosi yang memuncak, namun juga dari hal-hal tidak penting yang dilakukan oleh orang-orang toxic. Yang sebenarnya semakin ditanggapi akan semakin menjadi.
Balas dengan karya
Sebenarnya tidak perlu membalas semua hal negatif dengan cara yang negatif pula. Karena hal itu justru dapat merugikan diri sendiri. Jadi hal yang bisa dilakukan selain menjaga jarak, ialah membalasnya dengan karya.
Saat ia sibuk dengan keburukan yang ada dalam hatinya, kamu justru bisa belajar memperbaiki diri dan menghasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat.
Speak up
Jika memungkinkan, ajak pelaku bicara tentang apa motif dan tujuannya melakukan bullying. Jika disebabkan karena adanya permasalahan di masa lalu, maka sebisa mungkin selesaikan saat itu, agar bullying tidak terulang kembali.
Ceritakan pada orang yang dipercaya
Jika sudah dalam fase tidak sanggup lagi menerima perlakuan tidak menyenangkan, maka ceritakan pada orang-orang yang memang sangat dipercaya. Seperti halnya, orang tua atau sahabat.
Bahkan jika sudah masuk dalam ranah kriminalitas (menyebarkan berita tidak benar di media sosial atau melakukan kekerasan fisik) bisa juga melaporkannya pada pihak berwajib. (fyi/ian)






