Yogyakarta (beritajatim.com) – Sumbu filosofi erat kaitannya dengan Yogyakarta. Namun tak banyak orang mengetahui apa itu arti sumbu filosofi yang identik dengan kota Yogyakarta.
Untuk lebih memahami mengenai Sumbul filosofi, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta berencana menarasikan secara mudah apa itu sumbu filosofis Yogyakarta. Harapannya supaya wisatawan yang datang dan singgah ke Yogyakarta jadi paham benar apa itu sumbu filosofi.
Pejabat (Pj) Wali Kota Yogyakarta, Singgih Raharjo mengusulkan pihaknya berencana menarasikan dengan bahasa yang mudah itu agar wisatawan serta masyarakat setempat tak hanya sekedar berpiknik semata namun paham benar dengan makna yang terkandung di dalamnya.
Jika menarasikan Sumbu Filosofi Yogyakarta untuk kepentingan pariwisata, menurutnya wisatawan akan menghargai dan memahami alasan Sri Sultan Hamengku Buwono I menciptakan tata ruang berkonsepsi Jawa yang kemudian oleh UNESCO didefinisikan sebagai suistanable development atau pembangunan berkelanjutan.
“Bentuknnya seperti apa, nantinya narasi itu akan dibagikan ke wisatawan sebaik-baiknya agar wisatawan mendapatkan pengalaman yang lebih mendalam soal struktur bangunan hingga bentang jalan yang ada pada Sumbu Filosofi Yogyakarta. Tentu itu akan menarik sekali tanpa kemudian narasi seperti itu mereka hanya akan melihat bangunan-bangunan mati,” kata Singgih, Kamis (21/9/2023)
Pasca telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO, pihaknya akan meningkatkan kualitas pariwisata dengan bertolak ukur pada pengalaman berwisata. Bukan semata-mata pariwisata berkualitas harus dibayar dengan harga yang mahal.
Adapun yang dimaksud dengan Sumbu Filosofi secara ringkas yakni terkait pembangunan di Yogyakarta yang dirancang oleh Sultan Hamengku Buwono I dengan landasan filosofi yang sangat tinggi.
Baca Juga: Kota Yogyakarta Gunakan Teknologi Korea Kelola Sampah
Sultan Hamengku Buwono I menata Kota Yogyakarta membentang arah utara-selatan dengan membangun Keraton Yogyakarta sebagai titik pusatnya. Ia juga mendirikan Tugu Golong-gilig (Pal Putih) di sisi utara keraton, dan Panggung Krapyak di sisi selatannya.
Dari ketiga titik tersebut apabila ditarik suatu garis lurus akan membentuk sumbu imajiner yang dikenal sebagai Sumbu Filosofi Yogyakarta.
Secara simbolis filosofis poros imajiner ini melambangkan keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhannya (Hablun min Allah), manusia dengan manusia (Hablun min Annas) maupun manusia dengan alam termasuk lima anasir pembentuknya yakni api dari Gunung Merapi, tanah dari bumi Ngayogyakarta dan air dari Laut Selatan, angin dan angkasa.
Hal ini nantinya yang akan dinarasikan secara gamblang kepada wisatawan supaya menjadikan wisatawan yang datang ke Yogyakarta tidak sekadar main namun juga wisata edukasi. (aje/ted)






