Timnas Indonesia datang dengan materi pemain cukup mewah saat bertandang ke markas Australia pada lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia Grup C di Stadion Allianz Sydney, Kamis (20/3/2025).
Dengan total Market Value mencapai Rp634,86 Miliar, menjadikan Timnas Garuda di posisi ke-6 skuad termahal di Asia, bahkan melebihi tuan rumah yang hanya Rp412,81 Miliar.
Rasa percaya diri pun mengalir. Itu pasti. Apalagi, The Socceroos, julukan Timnas Australia, sedang tidak baik-baik saja akibat dilanda badai cedera. Enam pemain pilar Australia absen.
Kemudian, harapan semakin besar saat hari pertandingan, tepat di malam ke-21 bulan Ramadan 1446 H. Itu artinya, ada yang meyakini bakal ada peran semesta untuk berpihak. Loh, kok bisa?
Sebab bagi umat Islam, fans Garuda yang juga mayoritas Muslim, malam ke-21 pada bulan Ramadan, adalah malam yang istimewa, karena diyakini sebagai malam turunnya Lailatul Qodar.
Dalam keyakinan Islam, Lailatul Qodar adalah malam yang lebih baik dibanding dengan seribu bulan. Lailatul Qodar diyakini turun pada malam-malam ganjil, pada 10 malam terakhir Ramadan.
Lalu, teori ‘Ilmu Gathuk’ yakni ‘di atas kertas’ dan ‘di atas langit’ itu pun, membuat keyakinan fans Timnas kian membumbung, bahwa dari Sydney, pasukan Patrick Kluivert akan pulang membawa poin sempurna.
Perasaan itu makin kuat saat Wasit asal Yordania, Adham Makhadmeh, menunjuk titik putih untuk Timnas Indonesia pada menit ke-6. Saat itu, Rafael Struick yang menusuk ke kotak penalti, dijatuhkan Kye Rowles.
Lalu, Kevin Diks dengan percaya diri menempatkan bola di titik putih 12 pas dan bersiap menghujamkan hukuman ke gawang Australia yang dikawal Mathew Ryan. Tapi sayangnya, peluang emas itu sirna ketika sepakan pemain FC Copenhagen itu gagal lantaran membentur tiang gawang.
Nah, meski masih di awal pertandingan, tapi dari sini lah tanda-tanda ‘peran semesta’ atau berkah malam Lailatul Qodar sepertinya belum turun sampai Kota Sydney.
Sebab bagi pelaku sepakbola di Indonesia, pasti mengenal mitos, jika Bola yang membentur tiang atau mistar gawang adalah sebuah pertanda apes alias sial.
Benar saja, pada menit ke-14, aksi Nathan Tjoe-A-On, terpantau VAR (Video Assistant Referee) saat menggaet Lewis Miller di dalam kotak penalti.
Hal itu seakan melengkapi kesialan timnas. Skuad Garuda terkena hukuman penalti. Dan Martin Boyle, mampu membuat Australia unggul 1-0.
Timnas makin apes ketika Nishan Velupillay menjebol gawang Marten Paes kedua kalinya akibat kesalahan sapuan Thom Haye pada menit ke-20.
Alhasil, peluang emas yang gagal dan dua gol cepat Australia, seakan mengikis keyakinan fans Garuda hingga gol demi gol tercipta meski akhirnya sempat membalas sebiji.
Memang, mitos adalah mitos yang meski sering kali menjadi kenyataan, namun tak bisa dijelaskan keterkaitannya.
Cuma, kenapa sialnya bertubi-tubi hingga 5 kali? Padahal dari sisi teknis, pendekatan Patrick Kluivert agar pemainnya tidak mudah kehilangan bola, mampu diterapkan dengan bukti Ball Possession timnas yang mencapai 65 persen.
Memang, jika mengacu performa, timnas kali ini mampu tampil agresif dan ofensif. Positif. Bermain tandang pula. Baru kali ini melihat timnas tampil menyerang, menekan dan mendominasi permainan melawan tim elit Asia semacam Australia di kandang lawan.
Bahkan pada leg pertama 10 September 2024 lalu di Stadion Gelora Bung Karno saat kita menahan imbang 0-0, timnas kita lebih banyak ditekan dengan penguasaan bola tidak lebih dari 40 persen.
Alex Pastoor sempat mengatakan jika tidak akan ambil pusing soal strategi menyerang atau bertahan. Yang penting, timnas meraih poin.
Tapi kenyataannya sungguh pahit. Karena Kluivert memutuskan tampil menekan alias lebih ofensif. Berbeda dengan pola Shin tae-yong dengan skema 3-4-3 nya yang lebih cenderung menunggu, kemudian melakukan counter attack. Namun strategi itu, dianggap membosankan dan negatif, sehingga membuat pemain terlihat lebih capek.
Cuma perlu diingat, taktik tetaplah taktik. Bertahan adalah bagian dari strategi untuk memenangkan peperangan atau pertandingan. Entah, banyak orang suka atau tidak suka. Yang terpenting, adalah hasil akhir.
Saat itu, banyak yang mencibir strategi ‘Parkir Bus’ Jose Mourinho kala Inter Milan menyingkirkan Barcelona di Liga Champions 2009-2010. Tapi hasilnya, Inter Milan juara usai di final mengalahkan Bayern Munchen.
Jadi, sepakbola tetaplah sepakbola. Ada adu strategi, ada adu taktik. Intinya, malam ini timnas Indonesia kalah taktik, strategi dan efektifitas. Atau, kita saja yang terlalu sore berharap berkah malam Lailatul Qodar turun di Kota Sydney. [kun]






