Malang (beritajatim.com) – Tim riset dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melakukan penelitian moderasi beragama di Radboud University, The Netherlands (Belanda).
Tim tersebut terdiri atas Dr. Mohammad Mahpur, M.Si (Ketua Program Studi S2 Magister Psikologi), Jamilah, M.A (Sekretaris Program Studi S3 Pendidikan Agama Islam-Berbasis Studi Interdisipliner), Devi Pramitha, M.Pd.I (Sekretaris Program Studi S1 Manajemen Pendidikan Islam), dan Alitha Natriezia, S E (Humas UIN Malang).
Penelitian sudah dilakukan pada 3 hingga 8 Maret 2023. Riset ini dilakukan dalam rangka melihat nilai moderasi beragama diartikulasikan dalam konteks negara yang cenderung sekuler sehingga menjadi pelajaran bagi Universitas di Indonesia. Penelitian yang diusung berjudul ‘Cross sectional studies on Religious Moderation Mainstreaming Strategies and Practices Between UIN Malang and Radboud University,’
BACA JUGA:
FITK UIN Malang Kukuhkan Mahasiswa PPG Daljab Batch 3 Tahun 2022
Dari penelitian tersebut diharapkan UIN Malang dapat mengembangkan model moderasi beragama yang efektif dan relevan dengan konteks Indonesia. Selain itu agar mendapat wawasan baru mengenai praktik moderasi beragama di negara lain.
“Dalam jangka panjang, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan reputasi internasional UIN Malang dan memperkaya wawasan tentang moderasi beragama di Indonesia,” kata Devi Pramita, M.Pd.I, Sekretaris Program Studi S1 Manajemen Pendidikan Islam.
Ia berharap riset ini memberikan dampak positif untuk pembuat dan pengambil kebijakan di UIN Malang. Khususnya untuk menyusun model implementasi moderasi beragama dengan melihat pengalaman praktis lintas universitas di dunia.
“Riset ini akan memberikan pelajaran penting bahwa semua orang dengan identitas berbeda dapat tumbuh bersama dengan nilai kemanusiaan dan martabat,” jelasnya.
BACA JUGA:
Kuliah Tamu Psikologi UIN Malang Datangkan Profesor dari Jerman
Ketua tim peneliti, Dr. Mohammad Mahpur, M.Si mengatakan bahwa penelitian ini adalag bentuk implementasi Tridharma Perguruan Tinggi dan mendukung program International Recognition and Reputation University dengan riset. “Kami ingin menggali pandangan tentang kehidupan beragama di Belanda, yang dikenal sebagai negara sekuler,” kata Dr Mahpur kepada media, Jumat (7/4/2023).
Radboud University dijadikan tempat penelitian karena Jamilah sebagai salah satu anggota peneliti, sedang menyelesaikan program PhD. Kampus itu juga dipandang dapat memfasilitasi semua kebutuhan mahasiswa dengan tidak memandang agama. “Kampus ini memiliki kode etik berperilaku yang mempromosikan respect to each other, social safety not only in religion but in another aspect,” ujar Dr Mahpur.
Senada dengan itu, Fr. Joseph Geelen selaku pendeta dan koordinator tempat beribadah bagi semua agama di Radboud University menekankan, moderasi beragama merupakan bagian dari moderasi itu sendiri. “Moderasi beragama adalah sikap dan praktik untuk respect kepada orang lain dan menjamin agar setiap orang harus merasa bebas bersuara dan bebas mempunyai pilihan,” ujar Fr. Joseph Geelen.
BACA JUGA:
UIN Malang Tambah Profesor Bidang Ilmu Psikologi
Prof. Frans J. S Wijsen, salah satu professor emeritus di Radboud University, mengatakan jika Radboud University didirikan dengan nama Universitas Katolik yang memiliki misi mempromosikan emansipasi umat Katolik di Belanda. Namun saat ini sudah terbuka dengan agama apapun, tak terkecuali agama Islam.
“Radboud University memiliki kode etik berperilaku yang ditetapkan oleh dewan eksekutif sebagai nilai dasar masyarakat universitas. Beberapa nilai yang ada dalam kode etik ini mencakup saling menghormati, keamanan sosial, dan memfasilitasi kebutuhan mahasiswa tanpa memandang agama,” katanya. [dan/suf]






