Malang (beritajatim.com) – Tiga ruang kelas di SDN 3 Tambakasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, kondisinya memprihatinkan. Selain rapuh dan rusak berat, bangunan untuk siswa siswi belajar pun terkesan menyeramkan.
Meski ketiga ruang kelas itu sudah lama tidak dimanfaatkan untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), kondisi bangunan yang rapuh menjadi kekhawatiran para dewan guru.
Mirisnya, posisi tiga ruang kelas rusak itu, selain bersebelahan dengan ruang kelas TK juga berada di lingkungan bermain anak anak. Jika terjadi bencana alam seperti gempa bumi dan angin kencang, dikhawitirkan bangunan tersebut ambruk.
Kepala SDN 3 Tambakasri Nur Wisuda Wati S.Pd menerangkan, kerusakan tiga ruang kelas dilembaga yang dihuni oleh sebanyak 164 siswa ini sudah lama terjadi.
Dikatakan Bu Nur, panggilan akrabnya, seiring berjalannya waktu, kerusakan tiga ruang kelas itu semakin parah. Ruang belajar siswa sekitar tahun 2023 lalu terpaksa dikosongkan. “Anak seusia TK dan SD belum bisa membedakan antara tempat aman dan berbahaya saat bermain. Jika terjadi hal yang tidak diinginkan, tentunya pihak lembaga yang disalahkan,” kata Bu Nur, Selasa (12/8/2025).
Bu Nur menjelaskan, pihaknya sudah melayangkan proposal usulan rehabilitasi atau perbaikan ruang kelas ke Dinas Pendidikan Kabupaten Malang. Sayangnya, sampai saat ini belum juga ada respon.
Menurut Bu Nur, sebelumnya tiga ruang kelas itu untuk belajar siswa kelas 4, kelas 5 dan kelas 6.Tetapi dengan selesainya pembangunan gedung baru, siswa kemudian direlokasi.
Kemudian tiga ruang kelas itu kembali dimanfaatkan untuk belajar murid TK Dharma Wanita. “Tiga ruang kelas ini akhirnya dikosongkan, itu dengan berdirinya gedung TK baru yang terletak bersebelahan dengan ruang kelas lama,” tuturnya.
Terpisah, Kepala Desa Tambakasri, Ngateno menambahkan, kerusakan tiga ruang kelas di SDN 3 Tambakasri itu memang sangat parah dan mengancam keselamatan siswa.
Kata Ngateno, keberadaan sekolah di Desa Tambakasri ini untuk mendidik dan mencetak anak-anak bangsa yang menjadi kebanggaan masyarakat.
Ngateno berharap ada perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Malang agar secepatnya tiga ruang kelas yang rusak itu dibangun kembali. “Yang paling dikhawatirkan karena bangunan itu memang sudah tua dan terlihat pudar termakan usia, sehingga sewaktu-waktu dapat mengancam keselamatan para siswa,” pungkasnya. (yog/kun)






