Surabaya (beritajatim.com) – Tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menggagas inovasi teknologi membran hibrida untuk pengolahan biogas pada limbah Palm Oil Mill Effluent (POME).
Mereka adalah Sarazen Shalahuddin Akbar, Immanuel Nathanael Lumban Gaol, dan Irma Fitriani. Dijelaskan Sarazen, Indonesia merupakan penghasil kelapa sawit terbesar di dunia, dan memiliki potensi memanfaatkan kelapa sawit tersebut menjadi energi terbarukan.
“Melalui proses anaerobik nantinya limbah POME ini dapat diolah menjadi biogas,” jelas Sarazen ditulis Rabu (7/6/2023).
Sarazen menjelaskan, limbah POME mengandung gas-gas seperti metana, karbon dioksida, dan sebagainya. Namun, untuk menghasilkan biogas yang berkualitas, komponen utama yang diperlukan ialah gas metana.
Keberadaan gas karbon dioksida pada biogas, kata dia, memiliki implikasi negatif, yakni menurunkan nilai kalor pembakaran yang seharusnya mencapai 9.100 kalori per meter kubik menurun menjadi 4.800 kalori per meter kubik.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Sarazen dan timnya menginovasikan teknologi membran hibrida, yakni Mixed Matrix Membrane (MMM) berbasis polimer polisulfon dengan material komposit zif-8.
BACA JUGA:
ITS Surabaya Mulai Buka Jalur Mandiri, Ada Tiga Jenis Seleksi
“Dengan teknologi ini, komponen gas karbon dioksida dan metana pada biogas dari limbah POME dapat terpisah hingga mencapai 99,99 persen,” ungkapnya.
Mahasiswa Departemen Kimia, Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD) itu menambahkan, penggunaan teknologi membran hibrida ini merupakan gabungan dari membran organik dan anorganik. Penggabungan ini untuk menghasilkan performa yang lebih baik.
BACA JUGA:
Tim Robotika ITS Surabaya Dominasi Juara Kontes Robot Indonesia 2023 Wilayah II
Adapun kelebihan yang dimiliki pada teknologi membran hibrida ini di antaranya adalah kinerja pemisahan yang optimal, stabilitas yang baik, kekuatan mekanik yang bagus, harga yang terjangkau, dan mudah diaplikasikan.
Ditambahkan, karena inovasi ini menggunakan pendekatan teoritis dan sistematis, Sarazen mengungkapkan, tantangan dalam pembuatan inovasi ini ialah mengkaji beberapa teori dan studi literatur, serta mengumpulkan data yang membutuhkan waktu yang tidak lama. [ipl/suf]






