Jember (beritajatim.com) – Tiga bupati, seorang wakil bupati, mantan wakil bupati, dan seorang ketua DPRD menghadiri ujian terbuka promosi doktor Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lumajang Muhammad Muslim, di Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (13/8/2022).
Tiga orang bupati yang hadir adalah Bupati Jember Hendy Siswanto, Bupati Lumajang Thoriqul Haq, dan Bupati Situbondo Karna Suswandi. Wakil Bupati Jember Firjaun Barlaman. mantan wakil bupati Jember Abdul Muqiet Arief, dan Ketua DPRD Jember Itqon Syauqi tampak di kursi undangan. Enam Kepala Kantor Kementerian Agama dari enam kabupaten dan kota pun hadir.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pemkab-jember”]
Thoriqul adalah kawan kuliah Muslim di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Karna berteman baik dengan Muslim saat menjabat Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Lumajang. Sementara Hendy, Firjaun, dan Itqon diundang sebagai bentuk penghormatan Muslim yang pernah bekerja di Kantor Kemenang Jember.
“UIN KHAS juga di Jember. Saya merasa tidak enak jika tidak mengundang Pak Bupati dan Wakil Bupati serta Ketua DPRD Jember. Alhamdulillah semua hadir, memberikan dukungan moral bagi saya untuk bisa lolos menjadi doktor dengan predikat cumlaude,” kata Muslim.
Muslim tidak menyangka banyak kolega yang hadir dalam ujian terbuka itu. UIN KHAS menyiapkan tiga ruangan. “Menurut Pak Direktur Pascasarjana, ini ujian terbuka paling spektakuler sejak UIN KHAS punya program S3,” katanya.
Muslim mengambil judul disertasi ‘Strategi Kepemimpinan Kiai dalam Pengarusutamaan Islam Inklusif: Studi di Pondok Pesantren Al-Falah Silo Jember’. “Yang menarik bagi saya, sekarang banyak kelompok Islam radikal dan intoleran. Ternyata Al Falah tampil beda dibandingkan kebanyakan pesantren di Indonesia, terutama di Jember,” katanya.
“Al Falah sangat toleran dan terbuka dengan perbedaan. Contohnya: tukar santri dengan murid SMA Katolik Santo Paulus. Selain itu mereka sering diajak berdiskusi dengan tokoh-tokoh lintas agama. Pengarusutamaan moderasi Islam inklusif ini dilakukan oleh seluruh pengasuh di sana,” kata Muslim.
Tiga ulama di Al Falah yakni KH Ahmad Hariri, KH Abdul Muqiet Arief, dan KH Makmun Jauhari memiliki tipe yang bebeda. “Kiai Muqiet lebih ke praktisi, beliau seorang aktivis LSM, orang lapangan. Kiai Hariri ini sufi, dan Kiai Makmun intelektual murni, kutu buku. Tapi semua punya pandangan yang sama tentang Islam, yakni moderat dan disampaikan kepada publik dan para alumni,” kata Muslim.
Pandangan inklusif ini tak hanya berhenti pada konsep, namun juga praktik. “Menurut mereka, kalau dulu seandainya Rasulullah tidak mau bergaul dengan non muslim, Islam tidak akan sebesar sekarang,” kata Muslim.
Muslim mengerjakan penelitian di Al Falah selama dua tahun. Setiap Sabtu dan Minggu, ia datang ke Silo. Dia juga mengajak para doktor muda alumni UIN KHAS untuk berdiskusi. “Semacam forum grup diskusi sebulan sekali. Banyak masukan termasuk kendala soal buku referensi bisa dibantu teman-teman,” katanya.
“Saya kan bisanya wawancara ke Al Falah malam. Jadi saya wawancara bisa sampai jam satu malam, karena saya datang ke Silo jam sembilan malam. Pernah saya antre untuk bertemu Kiai Hariri, baru mulai wawancara jam dua belas malam sampai jam dua dini hari,” kata Muslim.
Saat ujian pun Muslim dibikin berdebar, karena harus berhadapan dengan Abd A’la, profesor yang merupakan gurunya di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep. Namun akal Abunawas masih dipakainya saat menghadapi pertanyaan para penguji.
“Anda sebelumnya bekerja menjadi wartawan. Saya ingin anda menjawab pertanyaan kami dengan singkat dan jelas,” kata Miftah Arifin.
Tak kehilangan akal, Muslim menjawab, “selama menjadi wartawan saya terlatih untuk bertanya, bukan menjawab.” Tawa pun pecah, termasuk dari penguji. Praktis ujian berlangsung gayeng selama tiga jam. Muslim pun bisa bernapas lega akhirnya menjadi seorang doktor. [wir/kun]






