Surabaya (beritajatim.com)– Selama ini, banyak orang langsung memikirkan anjing saat mendengar kata rabies. Memang, sebagian besar kasus rabies pada manusia disebabkan oleh gigitan anjing. Namun sebenarnya, rabies adalah penyakit virus mematikan yang dapat menyerang semua mamalia, termasuk manusia. Penyakit ini sangat berbahaya karena jika gejalanya sudah muncul, rabies hampir selalu berakibat fatal.
Selain anjing, kucing juga termasuk hewan yang berisiko menularkan rabies. Kucing yang tidak divaksin dan sering berkeliaran di luar rumah lebih mudah tertular virus setelah berkelahi atau kontak dengan hewan liar yang terinfeksi. Tidak hanya itu, musang atau ferret peliharaan juga bisa terkena rabies, meski kasusnya cukup jarang.
Dilansir dari penjelasan WHO, hewan ternak seperti sapi dan kuda juga dapat terinfeksi rabies. Di beberapa daerah, kasus rabies pada hewan ternak bahkan cukup tinggi karena mereka sering berada dekat hewan liar di area penggembalaan. Hewan yang terinfeksi biasanya tampak lemas, sulit menelan, dan mengeluarkan air liur berlebih. Gejala ini sering dianggap sebagai penyakit biasa sehingga tidak langsung disadari sebagai rabies.
Hewan lain yang juga perlu diwaspadai adalah monyet. Sebagai sesama mamalia, monyet bisa membawa dan menularkan virus rabies kepada manusia. Karena itu, wisatawan yang berkunjung ke daerah dengan kasus rabies tinggi disarankan untuk menghindari kontak langsung dengan monyet liar.
Di alam liar, virus rabies banyak ditemukan pada hewan seperti kelelawar, rakun, dan rubah. Kelelawar menjadi salah satu hewan yang paling perlu diwaspadai karena gigitannya sangat kecil sehingga sering tidak disadari. Oleh sebab itu, hindari menyentuh hewan liar, terutama jika perilakunya terlihat aneh atau tidak biasa.
Rabies biasanya menular melalui air liur hewan yang terinfeksi, baik lewat gigitan, cakaran, maupun jilatan pada luka terbuka atau bagian tubuh seperti mata dan mulut. Setelah masuk ke tubuh, virus akan bergerak melalui sistem saraf menuju otak. Masa inkubasinya bisa berlangsung dari satu minggu hingga satu tahun, dan selama itu penderita sering kali belum merasakan gejala apa pun.
Untungnya, rabies dapat dicegah. Cara paling efektif adalah dengan memberikan vaksin rabies secara rutin pada hewan peliharaan dan ternak. Selain itu, pemilik hewan juga perlu mengawasi peliharaannya agar tidak berinteraksi dengan hewan liar.
Jika anda atau anggota keluarga tergigit atau tercakar hewan yang dicurigai terkena rabies, segera cuci luka menggunakan air mengalir dan sabun selama minimal 15 menit. Langkah ini penting untuk membantu membersihkan virus sebelum masuk lebih jauh ke dalam tubuh.
Setelah itu, segera periksa ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Dokter biasanya akan memberikan vaksin pencegahan rabies atau Post-Exposure Prophylaxis (PEP) agar virus tidak menyerang sistem saraf. Jangan sampai menunggu gejala muncul, karena penanganan cepat adalah cara terbaik untuk mencegah anda terkena rabies. [Wakhdah Alisa Berliana]






