Madiun (beritajatim.com) – Tim roadshow buku “Reset Indonesia” yang digawangi jurnalis investigatif Dandhy Laksono mengalami aksi teror berupa pelemparan telur oleh orang tak dikenal di Madiun pada Minggu dini hari (21/12/2025). Insiden intimidasi fisik ini terjadi hanya berselang beberapa jam setelah aparat membubarkan paksa diskusi publik yang digelar tim tersebut di Pasar Wisata Pundensari, Kabupaten Madiun.
Teror tersebut menyasar dua mobil tim yang sedang terparkir di dekat penginapan. Kejadian ini menambah daftar panjang tekanan terhadap tim “Reset Indonesia” setelah sebelumnya agenda diskusi mereka dihentikan oleh aparat setempat pada Sabtu malam (20/12/2025).
Meski diskusi sempat dipindahkan dan berlanjut di MuCoffee Kota Madiun hingga tengah malam, intimidasi terhadap tim ternyata tidak berhenti di ruang diskusi.
Aksi pelemparan terjadi sekitar pukul 03.00 WIB ketika situasi lingkungan penginapan cenderung sepi. Dandhy Laksono melalui keterangan resminya mengungkapkan bahwa tim sudah mengantisipasi situasi tidak kondusif dengan menyiagakan dua personel untuk berjaga di dalam mobil.
Salah satu anggota tim bernama Putra menyadari kehadiran para pelaku saat kaca mobil menjadi sasaran lemparan. Berdasarkan pengamatan tim di lokasi, pelaku diduga berjumlah empat orang yang mengendarai dua sepeda motor secara beriringan.
“Dua mobil kita dilempar telur oleh empat orang. Mereka datang dengan dua motor beriringan, lalu melempar dan langsung pergi. Untung ada dua orang tim yang memang standby tidur di mobil untuk memantau situasi setelah kejadian di Pasar Pundensari,” ujar Yusuf Priambodo, anggota tim “Reset Indonesia”.
Setelah melancarkan aksinya, keempat pelaku langsung melarikan diri dari lokasi kejadian. Hingga saat ini, identitas para pelaku belum diketahui, namun tim “Reset Indonesia” meyakini bahwa tindakan ini merupakan intimidasi lanjutan yang terorganisir pasca pembubaran diskusi.
Kejadian ini memicu kekhawatiran publik terkait jaminan keamanan bagi warga negara dalam menyelenggarakan ruang dialog dan ekspresi ide di ruang publik. Teror telur ini dianggap sebagai simbol pembungkaman terhadap gerakan literasi dan jurnalisme investigatif yang dibawa oleh Dandhy Laksono dan timnya.
Hingga berita ini diturunkan, tim “Reset Indonesia” masih mengumpulkan bukti-bukti terkait serangan tersebut. Peristiwa ini menjadi sorotan tajam karena terjadi di tengah upaya masyarakat sipil untuk mendiskusikan gagasan kritis mengenai kondisi bangsa melalui bedah buku. [rbr/beq]






