Banyuwangi (beritajatim.com) – Penantian panjang penuh kecemasan yang dialami keluarga korban tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya memakan korban. Salah satu keluarga, Erna (42), warga Glenmore, Banyuwangi, terpaksa mendapatkan penanganan medis serius setelah mengalami syok akibat terlalu lama menunggu kabar anaknya yang belum ditemukan.
Erna merupakan ibu dari Daniar Nadief Inzaki (21), salah satu penumpang kapal naas tersebut yang hingga kini belum ditemukan. Sejak Kamis (3/7/2025), Erna telah setia menunggu di ruang informasi di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, berharap ada kabar tentang putra sulungnya.
Kasubag Administrasi Umum Balai Karantina Kesehatan (BKK) Probolinggo, Pipin Arisandi, membenarkan penanganan medis terhadap Erna. Pipin menyebut kondisi Erna sempat drop akibat shock berat dan terlalu banyak memikirkan anaknya.
“Anak pertamanya ikut di kapal itu dan belum ditemukan. Sampai sekarang belum ada kabarnya, jadi masih sangat shock,” ujar Pipin, Senin (7/7/2025).
Menurut Pipin, pihaknya langsung melakukan pemeriksaan medis intensif dengan mengecek tekanan darah, saturasi oksigen, serta memberikan infus.
“Awalnya tensi 162 per 100, sekarang sudah turun jadi 120 per 105. Infus kita tambah, yang bersangkutan juga sudah bisa makan sekitar empat sendok nasi dan minum susu,” terangnya.
Hingga saat ini, BKK Probolinggo mencatat hanya Erna yang memerlukan penanganan medis khusus. Namun demikian, pemeriksaan kesehatan rutin tetap dilakukan setiap pagi terhadap seluruh keluarga korban yang masih menunggu kepastian nasib sanak saudara mereka.
“Kami terus check-up kesehatan keluarga korban, siapapun yang punya keluhan maupun yang tidak tetap kami komunikasikan supaya mereka tetap bugar,” jelas Pipin.
Seperti diketahui, KMP Tunu Pratama Jaya tenggelam di perairan Selat Bali pada Rabu (2/7/2025) lalu saat membawa 65 orang. Hingga hari kelima operasi pencarian, tim SAR gabungan masih terus bekerja menemukan para korban yang belum terdata maupun belum ditemukan. [alr/beq]






