Ponorogo (beritajatim.com) – Dua ruangan SDN 3 Temon yang beberapa hari lalu terdampak bencana tanah longsor, bakal diperbaiki lagi secepat mungkin. Dua ruangan yang porak poranda itu juga pernah ditinjau langsung oleh Bupati Sugiri Sancoko pada hari Senin (6/12) lalu. Rencananya, perbaikan akan dilaksanakan pada tahun depan.
“Alhamdulillah, SDN 3 Temon dapat pendanaan perbaikan di APBD 2022,” kata Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo Imam Muslihin, Jumat (10/12/2021).
Sehingga, mulai sekarang Dindik Ponorogo melakukan berbagai tahapannya. Imam menyebut jika pihaknya juga sudah mengundang konsultan dalam tahap pra perencanaan untuk menghitungnya. Dengan begitu, awal tahun 2022 nanti segera dapat dilakukan actionnya. “Untuk perbaikan itu, dianggarkan dana sebesar Rp 200 juta,” katanya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”longsor”]
Jumlah tersebut juga mencakup biaya perencanaan. Kebutuhannya untuk memperbaiki tembok, plafon yang jebol dan talud yang ambrol. Untuk barang-barang yang sekiranya masih bisa digunakan, ya inventarisir. “Kebutuhannya berapa, ini masih dihitung. Melihat kondisi fisik bangunan kemarin, seperti kayu yang atasa dan besar-besar masih bagus jika diguankan,” pungkasnya.
Untuk diketahui, Bencana alam tanah longsor kembali menimpa Ponorogo. Kali ini terjadi di Desa Temon Kecamatan Ngrayun. Akibatnya, dinding gedung SDN III Temon jebol terkena guyuran material longsor. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam bencana tanah longsor tersebut. Namun, sejumlah peralatan sekolah yang ada di dalam gedung yang terdampak tertimbun material.
“Kejadiannya Jumat (3/12) kemarin sekitar pukul 13.00 WIB. Longsor menimpa diding gedung hingga menyebabkan ambrol,” kata Kapolsek Ngrayun AKP Joko Santoso.
Tanah yang longsor itu merupakan plengsengan setinggi 6 meter yang berada di samping gedung sekolah. Material batu plengsengan dan tanah setinggi 3 x 14 meter masuk dalam dua ruang kelas dan menimbun peralatan sekolah. Peralatan yang tertimbun anatara lain, bangku kelas dan kursi sebanyak 35 buah, kursi 1 buah, dan dinding permanen dengan tinggi 4 meter panjang 20 meter jebol. Hingga atas bangunan menjadi miring, otomatis dua ruang kelas itu sudah tidak bisa digunakan.
“Kerugian diperkirakan 1 gedung yang terdiri dari 2 ruang kelas beserta isinya, dan plengsengan setinggi 6 x 20 meter. Total kerugian sekitar Rp 200 juta,” katanya. (end/kun)






