Botol plastik butuh 450 tahun untuk terurai. Sejumlah 4,82 milyar botol plastik/tahun dihasilkan Indonesia yang potensi mencemari lingkungan. Konsep ekonomi sirkular mengubah botol bekas menjadi botol kembali sehingga tak lagi ada sampah. Puluhan ribu pemulung dan ribuan pekerja menggantungkan hidup dari limbah plastik ini.
Rombongan pendaki yang memadati jalur pendakian Gunung Semeru, Jawa Timur, sebagian besar sudah membawa sampah untuk turun, khususnya sampah plastik. Namun, permasalahan tak selesai sampai di situ. Tumpukan sampah di Desa Rapuni, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang akan menempuh perjalanan menuju TPA (Taman Pemrosesan Akhir) Lempeni, Kabupaten Lumajang.
Menurut Kepala DLH Lumajang Yuli, TPA seluas 6,9hektar ini menangani sampah sejumlah 166ton/hari dengan komposisi 59,75% sampah anorganik dan 40,25% sampah organik. Biasanya, sebelum sampah mencapai TPA, para pemulung sudah mengambil sampah yang bisa dimanfaatkan dan didaur ulang.
Sampah plastik yang tidak sempat masuk ke TPA, akan memenuhi tanah, sungai, dan laut. Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOOA), sebuah badan sains Amerika Serikat, tas plastik memburuhkan waktu 10-20 tahun untuk terurai. Botol plastik akan lebih lama sebab semakin tebal.
Setelah plastik terurai menjadi mikroplastik, masalah muncul lagi. Mikroplastik yang bisa masuk ke tubuh ikan lalu ke manusia yang mengonsumsi ikan tersebut. Temuan Ecoton, Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi di Jawa Timur, ikan di Kali Surabaya mengandung mikroplastik. Dampak mikroplastik akan mencemari lingkungan. Bila masuk ke tubuh manusia melebihi ambang batas, akan berpengaruh pada sistem hormonal tubuh yang menyebabkan berbagai penyakit.
Komposisi sampah plastik ini terus meningkat seiring dengan peningkatan kesejahteraan hidup penduduk Indonesia. Agus Supriyanto, Kepala Seksi Bina Peritel Direktur Pengelolaan Sampah KLHK menyampaikan bahwa timbunan sampah di Indonesia pada tahun 2020 mencapai 67,8 juta ton.
“Timbunan ini diperkirakan akan menjadi dua kali lipat pada tahun 2050 bila tidak ada upaya yang signifikan,” kata Agus.
Konsep Ekonomi Sirkular, Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Limbah

Salah satu upaya untuk mengurangi sampah plastik yang dihasilkan dengan penerapan ekonomi sirkular (circular economy). Sebuah model ekonomi baru yang tujuannya untuk mendefinisikan pertumbuhan ekonomi/pembangunan dan fokus pada dampak positif pada sosial dan lingkungan.
“Pertumbuhan ekonomi tetap dijalankan dengan cara menjadikan value produk, material, dan sumber daya selama mungkin,” kata M. Bijaksana Junerosano, pakar sirkular ekonomi dan pendiri Waste4Change.
Lebih lanjut, Sano menjelaskan, dalam model sirkular ekonomi, konsumen tidak membeli barang namun membeli manfaat dari barang yang diproduksi. Barang tetap akan menjadi milik perusahaan, setelah produk dipakai maka akan diambil oleh perusahaan lagi. Perusahaan akan melakukan perbaikan sesuai dengan kebutuhan untuk menghasilkan produk kembali tanpa ada sampah yang terbuang.
[berita-terkait number=”3″ tag=”sampah”]
Contohnya konsumen membeli air dalam kemasan galon yang bisa diisi ulang atau memberli gas dalam tabung elpiji. Setelah produk berupa air dan gas habis, maka konsumen akan mengembalikan galon/tabung tersebut untuk diisi lagi oleh perusahaan. Dalam proses ini, tidak ada sampah kemasan yang dihasilkan. Dengan demikian, air minum dalam kemasan galon lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan menggunakan air minum dalam kemasan botol.
Kampanye mengurangi sampah plastik, termasuk mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai ini sudah dilakukan beberapa tahun belakangan. Dunia pun menyerukan pengurangan penggunaan botol plastik untuk air minum.
Pun di Indonesia. Kampanye ini diserukan oleh para pegiat lingkungan dan juga perusahaan yang peduli. Menurut data Beverage Marketing Corporation and International Bottled Water Association, Indonesia menduduki peringkat ke-4 dunia sebagai negara pengguna botol plastik pakai sebanyak 4,82 milyar botol/per tahun pada tahun 2016. Posisi ini tidak beranjak dari tahun 2014. Urutannya paling banyak Tiongkok (10,42 milyar botol/tahun), Amerika Serikat (10,23 milyar botol/tahun), Meksiko (8,23 milyar botol plastik/tahun), dan Indonesia.
Daur Ulang Botol Menjadi Botol, Atasi Limbah Botol Bekas

Usai minuman habis, maka botol kemasan plastik PET ini menjadi sampah yang harus ditanggung lingkungan termasuk lingkungan rapuh seperti Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Menurut data yang dikumpulkan oleh KKL (Kelompok Kebersihan Lingkungan) Desa Ranupani, setiap hari ada 600 orang pendaki (bila tidak pandemi) diizinkan naik Semeru. Misalnya, satu orang membawa 1 botol air mineral ukuran 1,5 liter, maka ada 600 botol plastik yang dihasilkan. Pada kenyataannya, mereka membawa lebih dari satu botol plastik.
Menurut Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian Republik Indonesia, pemerintah menargetkan pengurangan sampah plastik di laut hingga 70% pada 2025. Botol plastik memerlukan waktu 450 tahun untuk terurai secara alami. Di sisi lain, botol plastik ini memiliki nilai ekonomi cukup tinggi bagi industri tekstil. Botol PET merupakan salah satu sampah yang sulit didaur ulang menjadi botol kembali. Seiring dengan kemajuan teknologi, botol PET sudah bisa didaur ulang menjadi botol PET kembali.
“Pada konsep linear ekonomi, botol plastik ini diolah menjadi polyester untuk pabrik tekstil,. Sementara kalau ekonomi sirkular akan mengolah botol menjadi botol kembali,” kata Yanto Widodo, Direktur PT. Namasindo Plas di Bandung, Jawa Barat. Perusahaan ini memproduksi Polycarbonate (PC) dan PET.
[berita-terkait number=”3″ tag=”lingkungan”]
Sejak tahun 2007, PT. Namasindo bersama dengan Danone-Aqua melakukan penelitian untuk mendaur ulang botol plastik menjadi botol daur ulang PET (recycled PET atau rPET). Tahun 2013, Namasindo Plas bekerjasama dengan Danone-Aqua untuk memasok botol daur ulang PET.
Diakui oleh Yanto, investasi untuk fasilitas produksi rPET ini sangat tinggi. Untuk satu mesin saja bisa sampai 600 milyar rupiah. Hal inilah yang menyebabkan tidak banyak perusahaan yang melirik bidang bisnis ini meskipun menurut Yanto, bidang ini akan menjadi bisnis masa depan.
“Sementara ini kami menerapkan subsidi silang dengan produksi lain untuk menutupi biaya produksi rPET,” akunya.
Di sisi lain, bisnis ini merupakan kepedulian pada lingkungan dan sosial sebagaimana konsep ekonomi sirkular yang diterapkan ingin diterapkan Yanto melalui perusahaannya. Pasokan bahan baku botol bekas ini melibatkan 20.000 orang pemulung di colletion center atau pekerja TPS3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, dan Recycle) Labuan Bajo, Bali, Tangsel dan Bandung.
“Harapan saya ke depan, kesejahteraan pemulung ini bisa meningkat melalui produk rPET ini,” kata Yanto.
Hal ini memungkinkan sebab minuman yang menggunakan kemasan botol daur ulang akan memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan botol berbahan virgin PET. Bila nilainya lebih tinggi, maka Namasindo akan bisa membeli dari collection center pun lebih tinggi dari harga rata-rata sekarang sehingga pemulung tidak menjualnya sebagai bahan baku tekstil, bahkan diekspor ke negara lain. Harga beli sekarang di collection center antara Rp 4 rb-Rp 5 rb per kilo botol bekas. Harapannya, harga beli bisa sampai Rp 7rb-8rb per kilo botol bekas.
Tak hanya colletion center di Labuan Bajo, Bali, Tangsel dan Bandung, 4 collection center di 4 kabupaten yaitu Semarang, Sleman, Bantul, Pasuruan juga memasok botol PET bekas ke perusahaan daur ulang yang baru diluncurkan 30 Juni 2021, PT. Veolia Services Indonesia (Veolia Indonesia).
Pabrik yang dibangun di atas lahan seluas 22.000 meter persegi dengan luas bangunan 7.000 meter di Pasuruan, Jawa Timur ini memiliki kapasitas produksi hingga 25.000 ton/tahun. Veolia juga menerima pasokan dari IRI (Inclusive Recycling Indonesia). Program ini melibatkan pemulung di Semarang, Yogyakarta, Jombang, Tulungagung, Demak, Malang, Lamongan, Surabaya, Magelang, dan Probolinggo.

Pembangunan pabrik daur ulang ini telah dimulai sejak Maret 2019. Saat ini, pabrik daur ulang Veolia Indonesia memproduksi rPET yang telah memenuhi standar keamanan pangan (foodgrade) dan sertifikasi halal.
“Kami telah bekerja sama dengan pemerintah di sejumlah negara untuk membantu pengelolaan sampah plastik di negara mereka. Dengan mengoperasikan fasilitas daur ulang yang dilengkapi dengan teknologi terkini, Veolia telah mampu membantu mengurangi permasalahan sampah plastik di negara-negara tersebut,” kata Sven Beraud-Sudreau, CEO Veolia Southeast Asia.
PT. Veolia Services Indonesia (Veolia Indonesia) bekerja sama dengan PT. Tirta Investama (Danone-AQUA) dalam pengoperasiannya. Menurut Connie Ang, Presiden Direktur Danone-AQUA, kemitraan yang dibangun bersama Veolia Indonesia ini akan dapat meningkatkan volume plastik PET daur ulang atau rPET yang digunakan di seluruh kemasan botol kami hingga 3x lipat dibandingkan pemakaian saat ini.
“Saat ini, seluruh kemasan botol plastik Danone-AQUA mengandung material daur ulang hingga 25% dan pada tahun 2019 yang lalu,” kata Connie Ang. Danone-AQUA telah meluncurkan botol air minum pertama di Indonesia yang terbuat dari 100% plastik PET daur ulang (AQUA Life). Oleh karena itu, kemitraan dengan Veolia Indonesia tidak hanya membantu meningkatkan upaya pengumpulan dan daur ulang sampah plastik di Indonesia tetapi juga memastikan penggunaan botol plastik yang lebih ramah lingkungan dengan tersedianya pasokan bahan baku yang memadai.

Veolia Indonesia merupakan perusahaan lokal bagian dari Grup Veolia yang berbasis di Perancis. Danone-AQUA mendukung operasional pabrik Veolia Indonesia dengan menjadi konsumen utama. Tak hanya itu, Danone-Aqua juga memastikan terbangunnya rantai pasok botol plastik PET bekas yang inklusif melalui upaya peningkatan kesejahteraan pemulung dan pekerja TPS3R.
Sementara itu, dalam sambutan Gubenur Jawa Timur, Kofifah Indar Parawansa pada saat peluncuran Veolia Indononesai menyampaikan jumlah industri di Jawa Timur sebanyak 821 ribu industri. Sejumlah 249 unit merupakan industri plastik yang menyerap 31 ribu orang tenaga kerja.
Ekspor plastik di Jawa Timur mencapai 3,7 triliun rupiah tahun 2020. Namun, impor plastik ternyata lebih tinggi yaitu mencapai 14,7 triliun rupiah. Melihat angka ini, industri plastik yang akan signifikan dengan peningkatan limbah plastik membutuhkan penerapan model ekonomi sirkular yang lebih serius.
“Harapan saya, pemerintah lebih banyak mendukung industri ekonomi sirkular. Misalnya, investasi fasilitas yang masih sangat mahal untuk kami para pelaku industri,” harap Yanto. [tik/suf]






