Lumajang (beritajatim.com) – Musim panen yang tinggal menghitung hari di Desa Kloposawit, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, diwarnai keresahan para petani, Senin (8/7/2024) kemarin.
Pasalnya, tanaman jagung dan padi mereka terancam gagal panen akibat serangan hama tikus yang kian merajalela. Hewan pengerat ini merusak puluhan hektar lahan jagung dan padi, bahkan tak menyisakan biji yang bisa dipanen.
Tomi, salah satu petani jagung di desa tersebut, mengungkapkan bahwa dirinya telah mengalami gagal panen sebanyak tiga kali akibat hama tikus.
“Upaya untuk membasmi tikus sudah dilakukan, namun tetap tidak membuahkan hasil. Saya mengalami kerugian jutaan rupiah per hektarnya,” keluh Tomi.
Kerugian yang sama juga dialami oleh Tarmidi, petani padi di Desa Kloposawit. Ia mengaku telah beberapa kali mengalami gagal panen karena serangan hama tikus.
“Kami sebagai petani tidak tahu harus bagaimana lagi,” ungkap Tarmidi dengan nada getir.
Menurut Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Lumajang, Ishak Subagio, maraknya hama tikus di wilayah tersebut diduga akibat hilangnya predator alami seperti ular dan burung hantu yang diburu oleh manusia.
“Perburuan ular sawah dan burung hantu yang masif menyebabkan populasi hama tikus tidak terkendali,” jelas Ishak.
Lebih lanjut, Ishak berharap pihak Oemkab Lumajang tidak melepas perhatian bagi para petani yang terdampak hama tikus. Selain itu, upaya-upaya memberantas melalui riset dari pemerintah juga dapat meringankan beban para petani.
“Harapannya Pemkab Lumajang bisa memberi solusi bagaimana upaya untuk memberangus hama tikus agar tidak semakin meresahkan” pungkasnya. [fid/ian]






