Probolinggo (beritajatim.com) – Para pedagang di kawasan GOR Ahmad Yani Kota Probolinggo mengeluhkan kondisi tenda sementara yang disediakan pemerintah kota. Mereka menilai fasilitas tersebut tidak layak, baik dari sisi kenyamanan maupun keamanan untuk berjualan.
Pantauan di lokasi, tampak sembilan tenda berbahan polyester berdiri di sisi utara GOR. Tenda-tenda itu diperuntukkan bagi pedagang yang lapaknya telah dibongkar dari sisi selatan area. Namun hingga kini, seluruh tenda tersebut masih kosong dan belum ditempati pedagang, menandakan minimnya minat untuk menempati fasilitas yang disediakan.
Ifa, seorang pedagang minuman, mengaku masih menunggu giliran pembongkaran berikutnya karena tenda pengganti untuknya belum dibangun. Ia menyebut bentuk tenda yang terbuka menimbulkan kekhawatiran soal keamanan barang dagangan.
“Kalau harus bolak-balik bawa barang dari rumah setiap hari, jelas merepotkan. Barang-barang kami kan berat,” kata Ifa kepada media.
Ifa juga menuturkan bahwa dirinya telah mengikuti rapat bersama perwakilan pemerintah kota, namun tidak memiliki pilihan lain selain menerima keputusan yang telah ditetapkan. “Saya ikut rapatnya, tapi ya tetap harus ikut keputusan mereka,” ujarnya.
Keluhan juga disampaikan Ima, pedagang ayam geprek, yang mengatakan pedagang harus menanggung biaya tambahan untuk membeli perlengkapan seperti penutup tenda, seng, hingga lampu. “Kami harus beli sendiri keperluan lainnya, karena pemerintah cuma kasih tendanya aja,” ungkapnya.
Ima menambahkan bahwa para pedagang sempat menyetok dagangan dalam jumlah besar karena diberitahu akan ada event voli. Namun, kegiatan tersebut tiba-tiba dibatalkan tanpa penjelasan resmi, membuat mereka rugi.
“Kami udah kulakan banyak, ternyata event-nya nggak jadi. Bingung juga,” keluh Ima.
Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (DKUP) Kota Probolinggo, Fitriawati Jufri, menyatakan bahwa tenda yang disediakan memang terbatas pada tipe terbuka, menyesuaikan dengan kondisi dan kemampuan anggaran pemerintah.
“Yang kami siapkan memang hanya tenda terbuka, sesuai dengan kondisi yang bisa kami penuhi saat ini,” jelas Fitriawati melalui pesan singkat. [ada/beq]






