Surabaya (beritajatim.com) – Dalam beberapa tahun terakhir, Ajax menjadi salah satu tim yang menakutkan di Liga Campions Eropa. Bahkan, mereka pernah mencapai babak semi final di musim 2018/2019.
Musim ini, mereka kembali tampil menggila. Bahkan berhasil menggulung Dortmund 4-0 di Leg pertama Kualifikasi Group Champions League dan kembali menang 1-3 di leg kedua. Padahal, jika dilihat dari komposisi skuat, tim ini tidak memiliki banyak pemain bintang dan banyak diperkuat pemain muda.
Penampilan gemilang Ajax Amsterdam tidak terlepas dari kehebatan sang manajer, Erik Ten Hag. Bukan hanya mampu mencetak banyak gol, Ajax juga memiliki sistem permainan yang atraktif. Mereka bertumpu pada sistem permainan dan kerjasama tim.
Sejak kehadirannya di Ajax musim 2017/2018, Ten Hag mengembalikan marwah Ajax sebagai salah satu tim kuat, bukan hanya di Belanda tetapi juga Eropa. Ia berhasil mengembalikan Ajax ke jalur yang benar.
Sebab, hampir sepuluh tahun sebelumnya Ajax sempat kehilangan arah. Selama masa itu, sudah 7 pelatih yang menukangi Ajax berakhir pada pemecatan. Hingga akhirnya hadir sosok Ten Hag.
Ten Hag telah memberikan lebih dari sekadar stabilitas yang sangat dibutuhkan Ajax. Cruyff memang tidak dapat menyaksikan cara pendekatan visi Ajax saat ini, tapi bisa dipastikan dia akan menyetujuinya. Filosofi Ten Hag tidak sepenuhnya Total Football 2.0, tetapi ada kesamaan yang jelas.
Hag lebih suka penguasaan bola yang bertujuan untuk membuat lapangan seolah kecil. Hag kemudian akan meminta bek sayap untuk menjadi pemain sayap tambahan. Daley Blind seorang pengamat sepak bola mengatakan jika “Filosofi dan semangat Johan Cruyff masih mengalir di klub ini,” kepada BT Sport pada Mei 2019 ketika ditanya tentang gaya Ten Hag.
Semua itu terjadi bukan kebetulan, ada keterkaitan antara Hag dan seorang pelatih terhebat saat ini, Pep Guardiola, sebagai guru Ten Hag. Saat Guardiola ditunjuk oleh Bayern Munich pada 2013, ia merekrut Ten Hag sebagai pelatih tim cadangan. Dari sinilah karakter filosofi Cruyff diturunkan ke Ten Hag melalui Guardiola.
Bukti kehebatan Ten Hag semakin terlihat pada Ajax musim ini. Ditinggal pemain-pemain bintang mereka seperti Hakim Ziyech, Franky De Jong, serta Matthijs de Ligt, Ajax tetap mampu dominan di Belanda dengan anak-anak muda mereka.
Mereka mampu menjadi pemimpin klasemen Eredivisie yang terpaut hanya dua poin dari PSV dibawahnya. Ajax telah mencetak 37 gol dan hanya kebobolan dua kali. Dan saat melawan Cambuur pada bulan September yang lalu, mereka mencukur habis Cambuur dengan skor 9-0 dan mencatat delapan pencetak gol yang berbeda.
Ini menunjukkan betapa efektifnya segala lini Ajax dan taktik Ten Hag yang berjalan dengan baik. [dan/tur]






