Surabaya (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya meminta warga kota pahlawan tak panik apalagi menyebarkan hoaks di sosial media setelah ditemukan satu kasus cacar monyet atau Monkeypox di Jakarta.
“Mengurangi kepanikan dan stigmatisasi serta tidak menyebarkan berita hoaks melalui media sosial, dan lain-lain (yang harus dilakukan masyarakat),” kata Kepala Dinas Kesehatan Surabaya, Nanik Sukristina, Rabu (18/10/2023).
Nanik menyebut, penyakit cacar monyet sudah tidak masuk dalam kategori Kedaruratan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KMMD) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) atau biasa disebut Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). “Sehingga kasus cacar monyet dianggap sebagai kasus dengan penanganan penyakit biasa,” kata Nanik.
Namun, lanjut Nanik, jika ditemukan kasus monkeypox di Surabaya akan dirujuk ke rumah sakit yang siap menangani Monkeypox, RSUD Dr. Soetomo. “Dan ditangani sesuai dengan petunjuk teknis (juknis) atau pedoman yang berlaku,” katanya.
Dinkes juga tetap mengimbau masyarakat untuk mengantisipai. Caranya menghindari kontak langsung dengan hewan penular, menghindari konsumsi atau menangani daging hewan liar tanpa Alat Pelindung Diri (APD) lengkap.
Serta menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan mencuci tangan menggunakan air mengalir lengkap dengan sabun, memakai masker, serta menyediakan hand sanitizer ketika bepergian keluar rumah.
“Biasakan mengonsumsi daging yang sudah dimasak dengan benar. Kemudian pelaku perjalanan yang baru kembali dari wilayah terjangkit segera memeriksakan dirinya jika mengalami gejala dan menginformasikan riwayat perjalanannya. Lalu hindari kontak tatap muka atau kontak fisik dengan siapa saja yang memiliki gejala atau barang terkontaminasi,” terangnya.
Sementara penularan Monkeypox, sambung Nanik, bisa lewat hewan atau manusia terinfeksi, bahkan benda yang terkontaminasi. “Di mana virus masuk ke dalam tubuh melalui hubungan seks, termasuk ciuman, sentuhan, seks oral dan penetrasi, kemudian kulit yang luka atau terbuka, saluran pernapasan atau selaput lendir mata, hidung, atau mulut, droplet dan cairan tubuh, pakaian, tempat tidur, handuk atau peralatan makan yang telah terkontaminasi virus dari orang yang terinfeksi,” pungkas Nanik.[asg/kun]
BACA JUGA: Kader PDIP Surabaya Pekikan Merdeka Sambut Penetapan Cawapres Mahfud MD






