Pasuruan (beritajatim.com) – Warga Dusun Keduwung, Desa Keduwung, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan membuat sebuah monumen di lokasi jatuhnya pesawat TNI AU yang terjadi pada bulan November 2023 lalu.
Menurut Kepala Desa Keduwung, Uripan mengatakan bahwa monumen tersebut dibangun atas arahan dari pihak Lanud. Dalam pembangunannya dua monumen tersebut memakan waktu selama 10 hari. “Pembangunannya memakan waktu 10 hari dan ini juga atas arahan pihak Lanud. Kami sesama warga saling bergotong royong antara warga dan sejumlah anggota TNI,” kata Uripan, Senin (8/1/2024).
Ditambahkannya dalam pembangunan monumen ini memiliki tujuan yang mulia yakni dengan menghormati para korban. Selain itu monumen ini juga dibuat untuk mengengang jasa para anggota TNI AU yang gugur dalam menjalankan tugasnya.
“Selain menjadikan tempat mengenang jasa para prajurit TNI, monumen ini juga untuk menghormati para korban. Ini juga sebagai kenangan terhadap korban yang gugur saat menjalankan tugas,” katanya.
Diketahui sebelumnya empat prajurit TNI AU telah gugur saat menjalankan tugasnya. Keempat prajurit tersebut gugur karena mengalami kecelakaan udara.
Keempat korban tersebut yakni Letkol Pnb Sandhra Gunawan (Frontseater) (TT-3111), Kolonel Adm Widiono (Backseater) (TT-3111). Lalu Mayor Pnb Yuda A. Seta (Frontseater) (TT-3103) dan Kolonel Pnb Subhan (Backseater) (TT-3103).
Tiga korban meninggal dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Suropati, Kota Malang. Yakni Marsekal Pertama TNI (Anumerta) Subhan, Marsekal Pertama TNI (Anumerta) Widiono Hadiwijaya, dan Kolonel Penerbang (Anumerta) Sandhra Gunawan. Sementara satu korban lain yang gugur, Letkol Penerbang (Anumerta) Yuda A, dimakamkan di TMP Madiun, Jawa Timur. (ada/kun)






