Surabaya (beritajatim.com) – Operasi otak dan tulang belakang terkenal rumit dan menuntut. Kini, dengan hadirnya Sistem Pencitraan & Navigasi O-Arm di Prince Court Medical Centre, ahli bedah diberdayakan dengan teknologi mutakhir pencitraan 2D/3D untuk meningkatkan hasil operasi.
Teknologi ini menghadirkan visual 3D dan anatomi pasien secara real-time selama operasi, memungkinkan operasi minimal invasif yang lebih presisi dan aman. Ahli bedah dapat melihat lokasi instrumen bedah relatif terhadap anatomi pasien, memastikan penempatan perangkat keras yang akurat.
Dr. Deepak Singh, Konsultan Ahli Bedah Ortopedi & Tulang Belakang, dan Dato’ dr. Jagdeep Nanra, Konsultan Ahli Bedah Saraf, berhasil melakukan operasi fusi antar tubuh lumbal transforaminal invasif minimal (MIS-TLIF) pada pasien yang menderita nyeri saraf selama enam tahun.
“Teknologi ini memungkinkan kami meningkatkan presisi dan mengurangi paparan sinar-X selama operasi,” jelas Dr. Deepak.
Dengan teknologi ini, dr. Deepak mengatakan ahli bedah tidak perlu lagi memperkirakan titik masuk dan lintasan sekrup. “Sehingga meningkatkan hasil pembedahan,” kata dia.
Konsultan Ahli Bedah Ortopedi (Tulang Belakang), Dr. Ng. Bing Wui menambahkan, penempatan implan sangat menantang dalam operasi tulang belakang. Ini disebabkan kedekatan implan tulang belakang dengan struktur tulang belakang.
Sehingga, kata dia, keakuratan dalam memasang implan tulang belakang sangatlah penting. Kesalahan penempatan implan ini dapat berakibat buruk.
“Sistem O-Arm memberikan gambaran anatomi pasien yang unik, membantu penempatan implan yang lebih akurat dan aman.”
Prince Court Medical Centre adalah satu-satunya pusat kesehatan di Semenanjung Malaysia yang memiliki teknologi ini. Teknologi ini bermanfaat bagi pasien dengan anatomi yang kompleks, termasuk anak-anak. [beq]






