Surabaya (beritajatim.com) – Taman Baca Masyarakat (TBM) di Kecamatan Rungkut kini tak hanya menjadi tempat membaca buku dan belajar. Para petugas TBM juga aktif dalam kampanye pemberantasan narkoba melalui edukasi kreatif berbasis konten digital.
Koordinator TBM Kecamatan Rungkut, Wildan Fariz, mengatakan pihaknya ikut berpartisipasi dalam lomba konten edukasi anti narkoba yang diselenggarakan Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM) Kelurahan Wonorejo, yang merupakan mitra BNN Kota Surabaya. Menurutnya, langkah ini menjadi upaya memperluas peran TBM di tengah tantangan sosial masyarakat.
“Taman baca bukan hanya tempat belajar dan membaca buku. Lebih dari itu, kami ingin menjadikan perpustakaan, terutama TBM, sebagai pelarian utama ketika ada masalah, bukan malah terjerumus ke narkoba. Karena di TBM banyak bacaan bermanfaat yang bisa membuka wawasan,” ujar Wildan, Selasa (30/9/2025).
Wildan menjelaskan, meski timnya belum berhasil meraih juara dalam lomba tersebut, partisipasi ini menjadi langkah awal kampanye anti narkoba yang konsisten. Dia berharap kegiatan ini bisa menginspirasi lebih banyak warga untuk terlibat aktif.
“Mungkin kami sekarang belum mendapatkan juara. Tapi kegiatan ini menjadi step awal dari kami untuk memulai kampanye anti narkoba,” tegas alumnus Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya ini.
Dalam konten video yang mereka buat, Wildan dan tim mengangkat cerita dengan tiga filosofi. Pesan yang disampaikan adalah bagaimana narkoba dapat menghancurkan hidup seseorang dan bagaimana TBM bisa menjadi tempat yang lebih sehat untuk mencari pelarian dari masalah hidup.
“Di awal video kami gambarkan seorang anak yang lelah karena orang tuanya bertengkar. Dia mencari teman untuk bercerita tapi justru menemukan teman yang salah, yang memberinya narkoba sebagai pelarian,” jelasnya.
Menurut Wildan, narkoba mungkin terlihat memberi ketenangan di awal, namun pada akhirnya justru membawa kehancuran. Hidup pengguna narkoba bisa berubah menjadi penuh hutang, dijauhi teman, hingga berakhir di penjara.
“Filosofi kedua, setelah menggunakan narkoba awalnya terasa nikmat, tapi lama-lama hidupnya hancur. Banyak hutang, dijauhi teman, bahkan bisa berujung dipenjara,” katanya.
Di akhir video, Wildan menunjukkan pesan positif bahwa solusi terbaik adalah mencari pelarian yang sehat. Dia menggambarkan seseorang yang diajak teman ke perpustakaan untuk nongkrong dan membaca buku sebagai alternatif mengatasi masalah.
“Filosofi ketiga, pelarian yang tepat adalah bersama teman yang baik, yang mengajak ke perpustakaan untuk membaca dan mengisi waktu dengan hal positif,” ujar Wildan.
Wildan menambahkan, masih banyak tantangan yang dihadapi TBM di era digital. Salah satunya adalah kebiasaan anak-anak yang kini lebih memilih bermain gadget dibanding membaca buku.
“Perkembangan era digital membuat banyak yang meninggalkan buku dan beralih ke gadget. Ini jadi tantangan besar bagi kami,” ungkapnya.
Selain itu, keterbatasan tenaga pendamping juga menjadi kendala saat jumlah anak yang datang ke TBM meningkat. Petugas sering kewalahan memenuhi kebutuhan pendampingan yang berbeda-beda.
“Kalau sedang ramai, kadang kami kewalahan karena kebutuhan anak-anak berbeda-beda dan harus ditemani satu per satu,” tutur Wildan.
Dia berharap keberadaan TBM semakin dikenal sebagai pusat kegiatan positif dan ruang aman bagi anak-anak dan remaja. Menurutnya, TBM bisa menjadi benteng penting dalam membangun generasi muda yang sehat, cerdas, dan bebas dari narkoba.
“Kami percaya, TBM bukan hamya tempat membaca, tapi juga benteng bagi anak-anak untuk terhindar dari pergaulan yang salah. Melalui buku dan kegiatan positif, kami ingin menunjukkan bahwa selalu ada jalan sehat untuk menghadapi masalah,” pungkas Wildan.[asg/aje]






