Surabaya (beritajatim.com) – Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arif Fathoni, angkat bicara terkait insiden tawuran yang terjadi di Jalan Moestopo pada Minggu (5/4/2026) dini hari. Dia meminta aparat segera melakukan penindakan tegas demi menjaga keamanan kota pahlawan.
“Saya berharap ada penindakan hukum yang tegas terhadap para pelaku, sehingga memberikan efek jera dan kejadian seperti ini tidak terulang,” ujar Arif Fathoni kepada beritajatim, Senin (6/5/2026).
Fathoni menilai, Surabaya sebagai kota yang hidup selama 24 jam membutuhkan jaminan keamanan yang konsisten. Dia mengingatkan bahwa potensi gangguan keamanan dapat berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi warga.
“Surabaya ini kota yang hidup 24 jam, kalau fenomena seperti ini dibiarkan, warga yang bekerja malam hari bisa menjadi korban dari perilaku jalanan seperti ini,” kata politisi Golkar ini.
Dia menyebut selama ini kondisi keamanan dan ketertiban di Surabaya relatif terjaga berkat kolaborasi antara pemerintah daerah, kepolisian, dan TNI. Namun, kejadian di Jalan Moestopo dinilai harus menjadi perhatian bersama untuk diperbaiki ke depan.
“Selama ini kamtibmas di Surabaya cukup baik karena kolaborasi Pemkot, Polri, dan TNI, sehingga perilaku seperti ini bisa dimitigasi sejak dini,” jelas dia.
Fathoni juga mendorong agar aparat penegak hukum tidak hanya menerapkan pasal umum dalam kasus tersebut. Dia meminta adanya penerapan aturan yang lebih tegas bagi pelaku yang membawa senjata berbahaya.
“Saya berharap tidak hanya dikenakan Pasal 170 KUHP, pelaku yang membawa senjata yang berpotensi menghilangkan nyawa juga bisa dikenakan Undang-Undang Darurat,” tegasnya.
Selain penegakan hukum, dia meminta Pemerintah Kota Surabaya kembali mengintensifkan patroli bersama di titik-titik rawan. Menurutnya, kehadiran aparat di lapangan penting untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat.
“Saya berharap Pemkot menghidupkan kembali patroli bersama di titik rawan agar warga yang bekerja malam hari merasa aman dan nyaman,” ujarnya.
Dia mengingatkan bahwa rasa aman merupakan faktor penting dalam menjaga perputaran ekonomi kota. Jika kondisi tersebut terganggu, dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor.
“Kalau rasa aman hilang, Surabaya bisa mengalami penurunan denyut nadi ekonomi,” katanya.
Fathoni juga mengajak peran orang tua untuk lebih aktif mengawasi anak-anak, khususnya remaja. Menurutnya, pengawasan keluarga menjadi kunci pencegahan keterlibatan dalam pergaulan yang berisiko.
“Saya berharap orang tua memastikan anaknya sudah di rumah jika lewat pukul 22.00 WIB, agar tidak terjerumus dalam pergaulan yang salah dan membahayakan,” pungkas dia. [ADV/asg]






