Surabaya (berijatim.com) – Di Indonesia, pernah ada film komedi berjudul ‘Tarzan Kota’. Film yang dibintangi Benyamin Sueb menggambarkan sosok manusia yang lama hidup di hutan lalu diajak masuk kota namun tetap bertingkah layaknya tempat tinggal lamanya.
Sementara, istilah Tarzan Kota ini tampaknya tepat disematkan kepada seorang pria di Karachi, India. Selama delapan tahun lamanya, dia hidup di rumah pohon di tengah kota.
Masyarakat Pakistan menyebut Farman Ali (28) sebagai Manusia Pohon Karachi. Kisah Farman Ali mirip dengan tarzan di perkotaan. Dia membuat rumah pohon di tengah kota. Sementara pohon itu merupakan fasilitas umum.
Farman Ali menjadi sensasi media sosial dalam semalam setelah rekaman rumahnya yang tidak biasa menjadi viral di media sosial beberapa pekan yang lalu. Orang-orang terpesona oleh pemuda yang berhasil tinggal di rumah pohon sederhana selama lebih dari delapan tahun.
Setiap kali orang bertanya alasannya tinggal di rumah pohon, selama itu dia selalu menjawab karena tidak ada pilihan.
Setelah kehilangan kedua orang tuanya, Ali terlalu miskin untuk membeli segala jenis perumahan konvensional, dan setelah tinggal di jalanan untuk sementara waktu, ia memutuskan untuk membangun rumahnya sendiri di satu-satunya tempat di mana tidak ada yang akan mengganggunya atau mengusirnya. – di pohon di properti umum.
Ia mencari nafkah dengan mencuci mobil, menyapu dan membersihkan rumah di luar rumah serta membuat bahan makanan untuk orang lain. Sebagian besar kliennya membayarnya dengan air dingin dan makanan, dan uang yang sedikit itu hampir tidak cukup untuk kebutuhan sehari-harinya, jadi dia bahkan tidak bisa memikirkan untuk mendapatkan rumah yang layak.
Kisahnya menjadi viral di Pakistan, dengan banyak yang memuji dia karena ketabahan dan pemikirannya yang luar biasa. Dia baru-baru ini diwawancarai oleh kantor berita video internasional, Ruptly, dan mengatakan bahwa dia hanya mulai tinggal di pohon Karachi sebagai upaya terakhir. Dia mengetuk setiap pintu yang dia bisa, meminta bantuan kerabat dan kenalannya, tetapi tidak ada yang mau berurusan dengan orang miskin yang tidak punya apa-apa untuk ditawarkan.
Ali mengatakan bahwa dia membangun rumah pohonnya dari bambu, kayu dan pintu tua, dengan kain untuk melindungi dirinya dari angin dan hujan. Selain tempat tidur seadanya, ia juga berhasil menyiapkan wastafel untuk mencuci muka setiap pagi, oven kecil untuk memasak dan memanaskan air, bahkan lampu kecil bertenaga baterai dan charger untuk ponselnya.
Penghuni rumah pohon muda itu memberi tahu jurnalis Pakistan bahwa dia pernah menikah, tetapi karena dia tidak bisa mendapatkan 30 ribu rupee atau setara dengan Rp 5.635.082,14 yang diminta pasangannya per bulan, dia akhirnya meninggalkannya. (adg/beq)






