Blitar (beritajatim.com) – Target produksi gula PT Rejoso Manis Indo (RMI) di Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar turun dari tahun sebelumnya. Tahun ini, RMI Blitar memiliki target produksi gula mencapai 1,1 juta ton.
Padahal pada tahun 2022 lalu, target produksi gula RMI Blitar mencapai 1,2 juta ton. Penurunan ini bakal berpengaruh terhadap stok gula nasional.
“Kalau produksi tahun 2023, karena kita berdampak dari iklim global kena El-Nino target hampir mencapai tapi belum tercapai,” kata Putut Hindaruji, Manager Eksternal atau Public and Government Relation Manager RMI Blitar, Selasa (30/1/2024).
Perubahan ini terjadi setelah target produksi gula pada 2022 lalu tidak tercapai. Diketahui produksi gula RMI di tahun 2022 hanya mencapai 1,17 juta ton.
Padahal, target produksi yang ditetapkan sebesar 1,2 juta ton. Penurunan produksi gula ini terjadi imbas dari El-Nino yang berkepanjangan.
“Target tahun ini 1,1 juta ton tebu karena mengingat cuaca yang berkepanjangan yang berdampak pada petani tebu yang ada di Blitar maupun Malang Selatan sehingga ada penurunan sekitar 20 persen,” tegasnya.
Turunnya produksi gula tersebut terjadi sudah sejak tahun 2022 lalu. Secara nasional produksi gula di Indonesia juga belum bisa memenuhi target yang ditetapkan oleh pemerintah.
Diketahui target produksi gula pemerintah mencapai 2,4 juta ton. Namun pada praktiknya produksi gula nasional hanya mencapai 2,1 juta ton.
“Jadi ini secara global kita kan dari tahun ke tahun dari 2022 sudah ada penurunan. Jadi panen global tidak mencapai target. Target pemerintah kan 2,4 juta tapi praktiknya hanya 2,1 juta, masih jauh dari kebutuhan,” imbuhnya.
Kondisi itu pun membuat pemerintah harus mengimpor gula untuk memenuhi kebutuhan nasional. Total pemerintah harus impor 60 persen, dari kebutuhan gula nasional 7,4 juta ton.
“Jadi kebutuhan gula nasional itu masih harus impor ada 60 persen kebutuhan nasional itu 7,4 juta,” tutupnya. [owi/beq]






