Jika dilihat secara sekilas, Tarekat Shiddiqiyyah yang berpusat di Pondok Pesantren Majma’al Bahrain Desa Losari Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang Jawa Timur, sepi dari hingar bingar politik. Kalau pun ada, hanya politik yang bersifat lokal. Hingar bingar itu baru nampak jelas menjelang Pilpres (Pemilihan Presiden) 2014.
Berdasarkan catatan beritajatim.com, hari itu Sabtu 28 Juni 2014. Ketika jarum jam menunjukkan pukul 15.00 WIB, capres dari PDIP Joko Widodo (Jokowi) menginjakkan kaki di pesantren yang berada di Jl Raya Ploso – Lamongan tersebut. Jokowi mengenakan baju kotak-kotak dan berpeci hitam.
Begitu datang, ratusan pendukung capres nomor urut dua tersebut langsung berebut salaman. Selanjutnya, mantan Wali Kota Solo ini memasuki kediaman Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah Kiai Mukhtar Mu’thi guna menggelar pertemuan tertutup. Sementara pertemuan digelar, ratusan massa terus meneriakkan yel-yel hidup Jokowi. Dalam pertemuan itu, Jokowi didoakan oleh kiai Mukhtar agar menjadi presiden RI ke-7.
Seiring laju waktu, Pilpres digelar. Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf Kalla (JK) menjadi pemenang dalam kontestasi tersebut. Jokowi-JK menang atas Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Waktu terus berputar. Lima tahun berikutnya atau Pilpres 2019, Jokowi kembali bertarung melawan Prabowo.
Namun pada 2019 itu, giliran Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang mengunjungi Pesantren Shiddiqiyyah di Ploso Jombang. Ketua Umum Partai Gerindra ini juga menemui Kiai Mukhtar. Namun keberuntungan belum berpihak kepada Prabowo, karena dalam Pilpres tersebut dirinya kembali kalah melawan Jokowi.
Selain dua tokoh tersebut, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan juga sempat mengunjungi Pesantren Shiddiqiyyah pada Maret 2017. Luhut didampingi Saifullah Yusuf yang saat itu menjabat Wagub Jatim, Bupati Jombang Nyono Suharli, serta Wabup Mundjidah Wahab.
Kiai Mukhtar Mu’thi dan Masyumi
Sebenarnya bukan tanpa alasan ketika Tarekat Shiddiqiyyah menjadi magnet bagi politisi. Jumlah massa Shiddiqiyyah saat ini kisaran lima juta orang. Tentunya hal itu menjadi lahan empuk untuk mendulang suara. Sementara itu, Kiai Mukhtar sebagai mursyid, pada pemilu pertama tahun 1955 juga berkecimpung di wilayah politik praktis. Mukhtar Mu’thi menjadi jurkam (juru kampanye) Partai Masyumi.
Hal itu sebagaimana dibahas dalam skripsi Eli Wahyuni berjudul Etika Politik Dalam Pandangan Lembaga Tarekat Shiddiqiyyah Losari-Ploso Jombang. Eli yang merupakan mahasiswa Fakultas Ushuludin dan Filsafat Uinsa (Universitas Islam negeri Sunan Ampel) Surabaya menuliskan bahwa Kiai Mukhtar pernah menetap sementara di Lamongan pada tahun 1953 di usianya yang ke-25.
Secara bertahap Kiai Mukhtar membangun masyarakatnya untuk cinta kepada pendidikan. Selain itu dia juga berdagang dan memiliki beberapa tambak ikan. Tidak hanya itu, Kiai Mukhtar juga pernah bergabung dalam politik praktis di Partai Masyumi yang pada saat itu dipimpin Muhammad Natsir.
Pada tahun 1955 pria kelahiran Ploso Jombang ini ikut melakukan kampanye untuk Partai Masyumi. Bahkan, Kiai Mukhtar menjadi juru kampanye andalan partai berlambang bulan bintang ini. Dalam satu bulan, Mukhtar muda bisa 60 kali diminta memberi ceramah untuk mengisi acara-acara. Suatu hari dia diminta oleh ibunya yaitu Nyai Nasichah untuk kembali ke Ploso. Permintaan itu dituruti olehnya.
Tarekat Shiddiqiyyah Lumbung Suara Golkar?
Orde Bari di bawah Soeharto menggelar pemilu pertama pada 1971. Ada 10 partai yang ikut dalam pesta demokrasi tersebut. Hasilnya, Golkar menjadi juara dengan menadapatkan 34.348.673 suara (62,82 persen). Dari situ Golkar mendapatkan 236 kursi di DPR.
Posisi kedua ditempati Partai NU (Nahdlatul Ulama) dengan memperoleh 10.213.650 (18,68 persen). Dengan perolehan suara tersebut Partai NU mengoleksi 58 kursi di DPR. Selebihnya adalah ditempati partai gurem yang perolehan suaranya di bawah 10 persen. Tentu saja, pada Pemilu 1971, Golkar merupakan lawan utama Partai NU. Nah, kemenangan Golkar itu sendiri tidak lepas dari dukungan dari Tarekat Shiddiqiyyah.
Lauhi Fatihah, mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Unair (Universitas Airlangga) dalam skripsinya pada 2014 yang berjudul Tarekat Shiddiqiyyah Ploso Jombang 1959-1979 menerangkan soal surat dari Konsulat Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam (G.U.P.P.I) kepada Tarekat Khalwatiyyah Shiddiqiyyah pada tanggal 21 Juni 1972.
Surat itu menerangkan bahwa Kiai Muchtar Mu’thi, para juru dakwah, juru ngaji dan santri-santri Tarekat
Khalwatiyyah Shiddiqiyyah telah bergabung dalam Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam (G.U.P.P.I) di Jawa Timur sebelum pemilu dan menjadi Golongan Karya.
[berita-terkait number=”2″ tag=”golkar”]
Hal ini diperkuat dengan surat keterangan dari Camat Kepala Wilayah Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang. Berdasarkan surat Kejaksaan Negeri Jombang Tanggal 17 Juli 1973 No. 36/I/VII/1973 atas surat dasar Surat Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, tanggal 30 Juni 1973 – No. R.1429/1.5.1.1/6/1973 yang langsung diamanatkan kepada Kiai Muchtar Mu’thi di Losari Ploso Jombang, mengenai Tarekat Shiddiqiyyah Pusat Losari Ploso Jombang.
Dalam surat ini menerangkan bahwa warga Tarekat Shiddiqiyyah ikut serta memenangkan Golkar dalam pemilu tahun 1971, baik lewat G.U.P.P.I dan IKABRA maupun lewat Sekber Golkar yang langsung mendapat pembinaan dari Kodim 0814 Jombang. Dalam hal ini Tarekat Khalwatiyyah Shiddiqiyyah memilih untuk mendukung Golkar dalam pemilu, karena sejak tahun 1970 Golkar sudah sering bantu membantu dalam hal perkembangan Shiddiqiyyah.
Partisipasi warga Tarekat Shiddiqiyyah untuk memilih Golkar dalam pemilu dilakukan selama masa pemerintahan Presiden Soeharto dan berakhir pada tahun 1998. Setelah berakhirnya masa pemerintahan Presiden Soeharto warga Tarekat Shiddiqiyyah bersikap netral dalam pemilu.
Langganan Dikunjungi Pejabat
Bukan hanya Jokowi, Prabowo, serta Luhut Panjaitan yang pernah datang ke Pondok Pesantren Majmaal Bahrain yang merupakan pusat Tarekat Shiddiqiyyah Ploso Jombang. Jauh sebelum itu, para penjabat sudah sering hilir mudik ke pesanten tersebut. Tepatnya sejak era Orde Baru.
Masih menurut skripsi Lauhi Fatihah, kunjungan pertama dilakukan oleh Gubernur Jawa Timur Soenandar Prijosoedarmo pada 3 Juni 1976. Gubernur yang didampingi Soepono dan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Jombang juga meninjau pondok pesnatren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah dengan Kiai Muchtar Mu’thi sebagai Mursyid.
Kunjungan dari pemerintah yang kedua adalah dari Dan Res Pol 1084 (sekarang Polres Jombang). Dan Res Pol 1084 mengunjungi pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah Pusat di Losari untuk mendapatkan data-data tentang penyembuhan non-medis yang berhasil dilaksanakan oleh Kiai Muchtar Mu’thi bagi penderita kecanduan narkotik serta kenakalan remaja. Karena penyembuhan itu telah terbukti hasilnya.
Kedatangan Dan Res Pol 1084 Jombang tanggal 9 desember 1976 itu bermula dari seminar penanggulangan kenakalan remaja di Jakarta, dimana peserta dari Sulawesi menyatakan bahwa Kiai Muchtar berhasil melaksanakan pengobatan non-medis bagi penderita kecanduan narkotik. Suara ini mengejutkan Ketua Bapenkar Jombang yang selama itu belum mengetahui hal tersebut.
Dokter Dardiri dari Rumah Sakit Umum Karamenjangan Surabaya, seorang dokter yang khusus menangani para penderita korban narkotik, datang pada 06 Rabi’ul Awal 1397 H atau 25 Februari 1977. Pada hari yang sama juga tanggal 25 Februari 1977 datang rombongan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat II Jawa Timur Komisi D dengan keperluan untuk meninjau penyembuhan narkotik di Pesantren Majma’al Bahrain shiddiqiyyah.
Golkar dan Menteri Era Orde Baru
Pada tanggal 19 Rabi’ul akhir 1398 H bertepatan dengan 27 Mei 1978, Menteri Agama Republik Indonesia Alamsyah Ratu Perwiranegara beserta rombongan juga mengunjungi pesantren tersebut. Menteri Alamsyah menggelar pertemuan di dalam kamar tamu pribadi milik Kiai Muchtar Mu’thi. Sedang para rombongan terpaksa hanya menunggu di luar kamar tersebut. Karena ruang tamu hanya cukup untuk Menteri Agama dan para Muspida Kabupaten Jombang.
Para pengurus Pusat DPP Golkar Jakarta berkunjung pada bulan Rajab 1398 H/ Juni 1978 ke pesantren dengan keperluan mengadakan peringatan Isra’ Mi’raj yang diselenggarakan oleh Pememerintah Daerah Jombang bertempat di Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah. Kemudian pada 7 Muharram 1399 H/ 7 Desember 1978 delapan orang ulama dari Bangladesh mengunjungi pesantren untuk melihat sistem dakwah Islam di pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah.
Pada tanggal 18 November 1978 Pesantren Majama’al Bahrain shiddiqiyyah dikunjungi oleh rombongan DPRD Fakfak irian Jaya. Bupati Jombang Achmad Dardiri bersama pimpinan DPRD MS Muhadi serta beberapa staf eksekutif menerima delapan anggota DPRD dari Kabupaten Fakfak propinsi Irian Jaya.
Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah juga dikunjungi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaaan sebanyak tujuh orang datang ke pesantren dengan keperluan memeriksa batu-batu kuno pada tanggal 19 Shafar 1399 H atau tanggal
18 Januari 1979.
[berita-terkait number=”3″ tag=”msat-jombang”]
Kemudian pada tanggal 31 Maret 1979 Kasi IV Bidang Pandais Kanwil Departemen Agama Provinsi Jawa Timur juga mengunjungi pesantren untuk mencari infomasi tentang pendidikan Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah. Pada tanggal 25 Juni 1979 Menteri Muda urusan Pemuda bernama Abdul Ghafur beserta rombongan melakukan kunjungan dinas ke Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah.
Di hadapan sekitar 1500 santri pondok Shiddiqiyyah yang berjejal-jejal, Dr. Abdul Ghafur berpidato tentang
pendidikan yang sangat penting yang akan mampu menjawab seluruh persoalan umat manusia. Dikatakan sebagai kaum muda Indonesia, dengan Islam sebagai agamanya, mengajarkan kepada kita supaya terdidik, supaya pandai, tidak kolot dan tidak hanya mempersoalkan taqlid
Pada tanggal 3 Agustus 1979 rombongan DPRD Sorong Irian Jaya melakukan kunjungan ke pesantren dengan tujuan untuk meninjau sistem dakwah di Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah dengan jumlah peserta rombongan sebanyak 12 orang.
Terlepas dari itu semua, Pemilihan Presiden (Pilpres) digelar pada 2024. Ya, masih dua tahun lagi. Tapi bagi seorang kandidat, itu adalah jangka waktu yang dekat. Masih adakah yang datang ke Shiddiqiyyah untuk meminta doa? [suf]






