Surabaya (beritajatim.com) — Perubahan pilihan politik KH Mustain Ramli, mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah, yang melabuhkan pilihan politiknya ke Golkar (kini Partai Golkar), mengakibatkan fragmentasi sosial di kalangan komunitas tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah.
Langkah Kiai Mustain tersebut mendapat reaksi keras, baik dari kalangan tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah, keluarga, maupun organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Pada tingkatan lebih lanjut, fragmentasi sosial kelembagaan tarekat tak terhindarkan. Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah terpecah menjadi tiga: Tarekat Rejoso Jombang, Tarekat Cukir Jombang di bawah kendali KH Adlan Ali dan KH Makki Maksum, serta tarekat Kedinding Lor Surabaya di bawah pimpinan KH Utsman Ishaqi.
Dalam perspektif ajaran amaliah, tak ada perbedaan tajam dan signifikan antara ketiga tarekat tersebut. Baik terkait dengan konten dzikir, wirid, upacara-upacara ritual lainnya. Sebab, ketiganya berasal dari sumber yang sama: Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah Pondok Darul Ulum Rejoso Jombang yang digagas sejak era KH Ramli Tamim.
Sedang kitab rujukan yang dipakai sebagai pedoman amaliah praktis di antaranya Samratul Fikriyyah dan Futuhat al Rabbaniyyah, yang berisikan ajaran pokok dan amalan yang mesti dijalankan penganut atau jamaah tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah.
Ketiga tarekat ini punya pandangan berbeda atas sikap dan respon politik terhadap politik pemerintahan Orde Baru Soeharto. KH Dimyati Ramli, mursyid tarekat Rejoso sepeninggal KH Mustain Ramli, mengatakan bahwa dalam memperjuangkan Islam, perspektif pemikiran dan langkah yang dilakukan Kiai Mustain jauh ke depan. Kalau tidak melalui jalur pemerintah pada tahun 1970-an, maka lembaga tarekat ini menghadapi banyak kendala dan kesulitan dalam mengamalkan ajaran-ajarannya.
“Meski afiliasi tarekat Rejoso kepada Golkar, tapi diakui adanya afiliasi pilihan politik warga tarekat yang berbeda, misalnya mendukung PPP. Hal itu tidak ada masalah, namun akan didekati dan disadarkan untuk memilih dan mendukung Golkar. Sebab, pemerintah dinilai amat baik dengan umat Islam, bahkan mengayomi kegiatan umat Islam,” kata Kiai Dimyati Ramli sebagaimana ditulis dalam disertasi Mahmud Sujuthi (2001).
Bagaimana Golkar mendekati Kiai Mustain, sehingga mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah Rejoso ini beralih mendukung partai tersebut? KH Arwani Mukhid, salah seorang pengisi pengajian tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah sejak Kiai Mustain masih memimpin tarekat ini, mengungkapkan, Kiai Mustain sering didatangi orang atau tokoh dari Surabaya dan Jakarta sebelum bergabung ke Golkar. Intensitas kedatangan para tokoh dari Surabaya dan Jakarta tersebut sangat tinggi.
Kendati telah masuk Golkar, Kiai Mustain tak khawatir dibenci dan dikeluarkan dari NU. Sebagaimana ditulis Mahmud Sujuthi dalam disertasinya, menyikapi kondisi pelik tersebut, Kiai Mustain berujar, ”Bagaimana dapat mengeluarkan saya dari NU, lha wong istri saya ini putri pendiri NU (KH Abdul Wahab Chasbullah) dan saya dilahirkan di kalangan NU”.
Tarekat Cukir
Fragmentasi sosial tajam dari sikap dan perubahan pilihan politik Kiai Mustain dari PPP ke Golkar adalah terbentuknya lembaga tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah Cukir di bawah pimpinan KH Adlan Ali, KH Makki Maksum dan beberapa kiai lainnya. Pemisahan diri dari tarekat Kiai Mustain (Rejoso) bukan karena persoalan Golkar, tapi karena sanad tarekat Rejoso itu munqathi’ (mata rantai ajarannya terputus).
“Menurut mereka, Kiai Mustain telah berani menghilangkan seorang mursyid dari silsilah tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah, yakni Kiai Utsman Ishaqi dari Surabaya. Karena munqathi’, berarti silsilah tarekat Rejoso itu tak sah. Padahal, keabsahan silsilah tarekat itu sangat menentukan keabsahan amalan tarekat. Karena terputus, maka wajib intiqal (berpindah) kepada guru atau mursyid lain yang jelas dan muntasil (bersambung) sanadnya,” tulis Mahmud Sujuthi.
[berita-terkait number=”4″ tag=”Tarekat-dan-Perubahan-Pilihan-Politik”]
“Kalau munqathi’ kan kasihan umat, karena amalannya tidak diterima,” tambah KH Makki Maksum, salah satu tokoh tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah Cukir Jombang. Yang jelas, sejak awal, tarekat Cukir menjadi pendukung PPP. Hal itu disebabkan, NU masih berafiliasi dan berfusi dalam PPP. Kiai Makki Maksum menegaskan, tarekat Cukir mendukung PPP, karena PPP itu adalah ahli waris NU.
Karena itu, setelah kebijakan asas tunggal diterapkan dan semua parpol dan Golkar diwajibkan berasas Pancasila, Kiai Makki Maksum sebagai tokoh tarekat Cukir tetap berpendapat bahwa PPP itu adalah partai Islam, karena di PPP semuanya (elite dan pendukung) beragama Islam. Setelah kebijakan kembali ke khittah NU 1926 diputuskan dalam muktamar NU di Situbondo tahun 1984, Kiai Makki Maksum menjelaskan bahwa kembali ke khittah tak berarti NU memisahkan diri dari PPP.
Mahmud Sujuthi mengungkapkan secara gamblang perbedaan orientasi politik tiga tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah. Dalam perspektif perilaku, tarekat Rejoso menyesuaikan/ mengakomodasi kebijakan politik pemerintah (adaptif akomodatif). Tarekat Cukir cenderung menolak kebijakan politik pemerintah (antagonis). Sedang tarekat Kedinding Lor bersikap bersedia bekerja sama dengan pemerintah (kooperatif).
Dari perspektif pola pemikiran, tarekat Rejoso bersifat rasionalistik, realistik dan substantivistik. Untuk tarekat Cukir bersifat skripturalistik, idealistik, dan formalistik. Sedang tarekat Kedinding Lor bersifat rasionalistik, realistik dan substantivistik. “Dalam perspektif afiliasi politik, tarekat Rejoso merapat ke Golkar, tarekat Cukir mendukung PPP, dan tarekat Kedinding Lor bersikap netral. Untuk masalah ritualnya, ketiga tarekat ini tak memiliki perbedaan sama sekali,” tegas Mahmud Sujuthi (2001). [air/habis]






