Pamekasan (beritajatim.com) – Salah satu dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ( (UINSA), Dr Iksan Kamil Sahri menyampaikan beragam tantangan Perguruan Tinggi berbasis pesantren pada era revolusi industri 4.0 dan society 5.0.
Hal tersebut disampaikan saat memberikan Orasi Ilmiah dalam Prosesi Yudisium Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan, Tahun Akademik 2021-2022, di Perguruan Tinggi yang beralamat di Jl Raya Palengaan (Palduding) Nomor 2 Pamekasan, Jum’at (30/9/2022).
“Setidaknya terdapat tiga ciri khas dari era revolusi industri yang harus kita pahami bersama, pertama dehumanisasi, kedua orkestrasi wacana, serta munculnya gejala the death of expertise alias matinya kepakaran,” kata Dr Iksan Kamil Sahri.
Ketiga ciri tersebut merupakan suatu keniscayaan yang harus dihadapi bersama, sekaligus diimplementasikan dalam hal yang bersifat positif dalam merealisasikan, khususnya saat berada dalam era revolusi industri.
[berita-terkait number=”3″ tag=”iai-al-khairat”]
“Dehumanisasi berupa lunturnya sentuhan jiwa manusiawi, hal ini bisa dengan mudah kita lihat saat merayakan hari raya. Dirasakan atau tidak, kehangatan lebaran dengan saling berkunjung mulai berkurang. Orang lebih memilih mengirim ucapan dan permohonan maaf melalui WhatsApp yang seringkali disebar merata. Belanja kebutuhan tidak lagi ke toko kelontong tetangga, tetapi melalui jaringan minimarket waralaba yang serba mekanis dan sistemik,” ungkapnya.
Termasuk juga ciri orkestrasi wacana atau tren dalam budaya, sekalipun sifatnya yang massif dan hanya menjadi tren sesaat. “Dulu Psy dengan Gangnam Style trennya merajalela, lantas berganti dengan tren lain. Wacana politik juga sama, ada tagar 411, lantas berganti 212 dan seterusnya. Di wilayah wacana digital ada juga tagar save ini-itu, dan selanjutnya. Bahkan warga dunia maya alias netizen justru gampang digerakkan dengan tombok klik semata,” imbuhnya.
“Ciri ketiga berupa kepakaran, otoritas keilmuan yang terbatas. Walaupun sudah maju dan tampak tercerdaskan, namun perangkat digital di era 4.0 tampaknya justru menghilangkan batas sosial dan menghilangkan “otoritas keilmuan”. Orang bisa komentar apapun, menyajikan analisis segila apapun, dan mengambil kesimpulan atas sebuah perkara yang bukan menjadi bidang keilmuannya,” jelasnya.
Hal tersebut dicontohkan dengan analogi dokter secara ceroboh menilai kualitas sebuah hadits, guru nahwu tiba-tiba ngomong soal teori konspirasi dunia medis, insinyur teknik berbicara ndakik-ndakik tentang anggaran militer, dan arsitek berbicara soal racikan obat. “Kondisi seperti ini benar-benar sangat absrud,” tegasnya.
“Lantas apa yang harus dilakukan oleh pesantren dan kalangan santri menyikapi revolusi industri 4.0 dan Society 5.0. Pertama tetap mempertahankan ciri khas pesantren dengan tetap menjunjung tinggi nilai etika dan estetika, kedua menjadikan era 4.0 sebagai sebuah hal yang ‘ditunggangi’. Ibarat peselancar di pantai, tidak melawan ombak, melainkan menungganginya dengan indah,” sambung dr Iksan.
Ketiga, era Society 5.0 yang bertujuan mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik. “Kedua ruang ini harus terintegrasi, artinya saling mendukung dan tiada lagi pengabaian unsur manusiawi. Di era ini, teknologi dihadirkan sedemikian rupa, antara lain untuk mendukung misi-misi sosial,” bebernya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”iai-al-khairat”]
“Penggunaan aplikasi media sosial juga untuk tujuan kemanusiaan sudah banyak dilakukan, netizen bukan saja canggih dalam memanfaatkan zona maya yang merupakan wilayah operasionalnya, melainkan menjadikannya sebagai sesuatu yang berkontribusi pada kemaslahatan. Semisal aksi galang dana, protes kesenjangan sosial, aksi peduli sosial, politik, dan budaya semua digalang oleh para netizen,” tegasnya.
Padahal dengan kondisi tersebut, di antara para netizen justru tidak saling kenal antara satu dengan lainnya secara langsung. Hanya saja mereka terkoneksi melalui jaringan dunia maya, dan bergerak bersama-sama atas nama solidaritas. Sekat geografis, sosial, kultural, dan ekonomi menjadi bias. “Orkestrasi Gerakan ini tampak menarik, karena selain massif juga simultan,” kata dr Iksan.
“Oleh karena itu, kalangan kaum santri khususnya mahasiswa berbasis pesantren harus mampu menunggangi perkembangan di era ini, sekaligus mewujudkan nilai-nilai pesantren yang ada. Tidak perlu canggung, tapi harus canggih. Tidak usah minder, karena di era ini kita dituntut untuk pinter. Jangan hanya diam, melainkan harus bergerak,” ajaknya.
“Jadikan tombol ‘klik’ agar selalu bermanfaat, kembangkan keilmuan kita dalam dunia nyata dan maya, agar kelak, kita bisa memanen kebaikan ini di akhirat. Sebab apapun yang kita lakukan dengan tombol ‘klik’ ini kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” pungkasnya. [pin/ted]






