Bangkalan (beritajatim.com) – Lonjakan kasus Covid-19 di Kabupaten Bangkalan membuat tenaga kesehatan kewalahan. Namun, hingga kini masih banyak nakes yang belum menerima insentif dari penanganan Covid-19 itu.
Wakil Bupati Bangkalan, Mohni mengatakan permasalahan tersebut juga terjadi di beberapa daerah lain. Di Bangkalan sendiri, pencairan insentif Nakes disebabkan refokusing anggaran yang tersistem melalui SIPD.
“Untuk Bangkalan dinilai belum maksimal karena ada kendala di SIPD yang tidak muncul,” jelasnya, Selasa (29/6/2021).
Selain itu, pendataan nakes juga menjadi salah satu kendala. Sebab, naiknya kasus tersebut juga berdampak pada penambahan nakes.
“Karena data terus bertambah, maka ada yang sudah masuk SIPD namun ada juga yang dicairkan secara manual,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Badan Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah, Abdul Aziz, mengatakan, anggaran yang digunakan untuk insentif Nakes sebanyak Rp 12 miliar. Namun hingga kini masih terserap 17 persen.
“Masih terserap Rp 2,8 miliar dari pagu Rp 12 miliar. Ada kendala namun sudah teratasi. Salah satunya refokusing,” ungkapnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”covid-bangkalan”]
Ia menyebut, minimnya serapan bukan hanya pada insentif nakes namun juga pada penanganan Covid, dukungan vaksinasi serta PPKM Mikro.
“Untuk rinciannya ada di Dinkes. Dan kami juga akan menyampaikan ke dinas-dinas agar penyerapan penanganan Covid-19 bisa dilakukan,” imbuhnya.
Diketahui, penanganan Covid-19 dianggarakan dari dana refokusing sebesar 8 persen yang diambilkan dari Dana Alokasi Umum (DAU). Sehingga, anggaran di masing-masing wilayah berbeda termasuk untuk insentif Nakes. [sar/but]






