Blitar (beritajatim.com) – Goa Maria Sendangrejo di Kelurahan Ngadirejo Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar menyimpan cerita toleransi antara umat Katolik dengan umat Islam. Bagaimana tidak, tempat wisata rohani umat Katolik itu dulunya berdiri di atas tanah milik perempuan muslim bernama Tumi.
Tepatnya pada tahun 1977, Tumi mengikhlaskan tanah miliknya untuk dipinjam dan didirikan tempat ibadah bagi umat Katolik. Tumi tidak meminta bayaran sepeserpun dari umat Katolik yang saat itu hendak mencari tempat untuk dibangun Goa Maria.
Tumi hanya berpesan agar pohon Bendo yang ada di lokasi tersebut untuk dilestarikan.
“Iya ibuk dulu memang mengikhlaskan tanah di samping itu untuk didirikan tempat ibadah untuk umat Katolik,” ujar Nanik Sri Wiyanik, Anak Dari Tumi, Sabtu (24/12/2022).
Nanik menjelaskan bahwa sang ibu merupakan seorang muslim yang awalnya tidak kenal Romo atau pemimpin dari umat Katolik yang saat itu masih minoritas di lingkungannya. Namun sang ibu justru mengikhlaskan tanahnya, saat sejumlah umat Katolik meminta izin untuk membangun sebuah tempat beribadah yakni Goa Maria.
Bukan hanya mengikhlaskan tanahnya untuk didirikan bangunan Goa Maria, Tumi juga ikut membantu membersihkan sejumlah pepohonan yang waktu itu masih tumbuh lebat di lokasi lahan tersebut. Semua dilakukan Tumi tanpa pamrih, demi berdirinya Goa Maria untuk Umat Katolik.
“Ya dulu gak hanya meminjamkan tanah tapi juga ibuk ikut bersih-bersih ranting dan batang pohon yang ada di lokasi,” imbuhnya.
Keterangan serupa diungkapkan oleh Yohanes Yulianto Purnomo, pengelola Wisata Goa Maria Sendangrejo Kota Blitar. Menurut Purnomo, Goa Maria ini berdiri berkat kemurahan hati dari ibu tumi yang mengizinkan tanahnya untuk dipinjam dan didirikan bangunan Goa Maria.
Menurut waktu tahun 1977 itu Umat Katolik di lingkungan tersebut belum memiliki uang atau kas untuk membeli tanah. Sehingga jemaat bersepakat meminta izin ke Tumi untuk meminjam tanahnya untuk didirikan Wisata Religi Goa Maria.
Pada waktu Romo Bartels CM telah meninjau sejumlah tempat diusulkan oleh jemaat untuk bangunan Goa Maria. Namun Romo yang berasal dari Belanda itu kurang berkenan hingga akhirnya menemukan tanah yang merupakan milik Tumi.
Romo Bartels bersama jemaat pun meminta izin kepada Bu Tumi untuk meminjam lahannya. Tanpa berpikir panjang Tumi langsung membolehkan lahannya dipakai untuk dirikan Goa Maria.

“Pembuatnya dulu terutama dari warga umat Katolik di kelurahan Ngadirojo kemudian mengusulkan kepada pastur nya dari Belanda namanya Romo Bratres. Ternyata ditunjukkan beberapa tempat Romo Bratres itu tidak berkenan terus ditunjukkan tempat ini yang punya kan orang depan itu tapi masih lahan yang tidak terus,”
“Terus akhirnya dipinjam, belum beli tidak dibeli tapi pinjam. Apa boleh saya pinjam untuk dibuat goa Maria, o boleh Romo silahkan ujar mbahnya,” jelas Purnomo.
Dari situlah Goa Maria mulai dibangun oleh Umat Katolik di Lingkungan Ngadirejo Kota Blitar. Awalnya bangunan Goa Maria hanya berukuran kecil kemudian pada tahun 2011 lalu dilakukan renovasi secara bertahap hingga sekarang menjadi lebih besar dan indah.
Luas Goa Maria Sendangrejo Kota Blitar ini kurang lebih 1 hektar. Umat Katolik sendiri juga tetap menjaga pesan Tumi untuk melestarikan Pohon Bendo yang ada di lahan tersebut.
[berita-terkait number=”4″ tag=”viral”]
Setelah Tumi meninggal dunia Umat Katolik di kelurahan Ngadirojo pun membayar tanah yang didirikan Goa Maria. Uang pembayaran tanah tersebut diberikan kepada sang anak.
“Tapi kini telah kami beli, uangnya kami berikan ke anaknya beliau,” pungkasnya.
Rasa toleransi yang dimunculkan Tumi, hingga kini masih terjalin erat antar umat beragama di Kelurahan Ngadirejo Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar.
Sementara itu, Goa Maria Sendangrejo sendiri menjadi wisata religi satu-satunya untuk umat Katolik yang berada di Kota Blitar. Wisata Religi Goa Maria Sendangrejo juga telah masuk dalam daftar tempat wisata Pemkot Blitar. [ow/but]






