Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) Malang akan melangsungkan KKN di 1.000 desa. Salah satu langkah yang telah dilakukan dengan memperkenalkan Sustainable Development Goals (SDGs) Center UB.
SDGs Center UB diperkenalkan pada publik di acara soft launching yang berlangsung di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), Rabu (18/1/2023) kemarin.
Dr Muhammad Muzakki S.Pd, MSi yang menjadi Koordinator SDGs Center UB menjelaskan, saat ini di Jawa Timur hanya ada 3 kampus yang punya program SDGs. Pertama adalah Universitas Jember, lalu Universitas Airlangga, dan ketiga Universitas Brawijaya.
“Kalau di Indonesia kita jadi kampus ke 27 yang membentuk SDGs. Kita di Jatim menjadi kampus ketiga yang membentuk SDGs ini,” jelasnya saat dihubungi di Malang, Kamis (19/1/2023).
Setelah diperkenalkan ke publik, kata Muzakki, pihaknya akan membantu menyukseskan agenda KKN 1000 desa yang akan dilakukan UB. “Permintaan khusus dari Rektor UB, kita akan diberikan satu instrumen yang berkolaborasi dengan TIK UB untuk mewujudkan Super Komputer jadi pusat data,” ujarnya.
Super Komputer tersebut dapat bermanfaat untuk penunjang KKN di 1000 desa di Jawa Timur. Pihaknya pun sudah berkomitmen menyukseskan acara itu dengan berkolaborasi dengan pemangku kepentingan lainnya, seperti LPPM, dosen dan mahasiswa.
“Rektor UB tidak ingin produk KKN mahasiswa hanya membangun gapura. Namun, dengan adanya SDGs bisa berkontribusi membangun sumber daya manusia di 1.000 desa di Jatim,” jelas Muzakki, dosen Prodi S3 Sosiologi Fisip UB Malang.
SDGs UB juga dicanangkan untuk pengembangan 200 desa di bawah naungan Jaringan Kampung Nusantara. Dia berharap adanya hal itu akan membuat potensi desa makin berkembang.
“Kami berharap potensi desa makin berkembang. Kami tidak sendiri, karena juga didukung beberapa pihak lain. Ada profesor dari UI, budayawan, artis seperti Trie Utami dan beberapa elemen lain,” lanjutnya.
Ia menuturkan SDGs UB telah dirintis mulai tahun 2021. Awalnya aktivitas dilakukan dalam bentuk menulis jurnal atau artikel. Setelah itu, dibentuk forum rutin Selosoan yang dikemas dalam bentuk Podcast.
“Bukan hanya diskusi, kami juga program Sonjo Kampung (berkunjung ke kampung) untuk mengetahui kondisi desa secara faktual. Beberapa desa sudah mendapatkan pendampingan seperti desa di Gedangan, Kabupaten Malang. Kemudian pendampingan di Desa Sukodono Dampit. Dari beberapa pendampingan tersebut, salah satu akselerasi yang akan dibantu SDGs UB adalah pemasaran produk dari desa,” lanjut Muzakki.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Malang”]
One Village One Product menjadi tagline dari program tersebut. Cara itu menjadi solusi dari masalah pemasaran produk yang dihasilkan wirausaha di desa. Ke depan, SDGs Center UB akan melibatkan lintas studi.
Muzakki berharap kurikulum bermuatan SDGs bisa masuk ke fakultas-fakultas yang ada di UB. Hal ini dia yakini untuk mendukung Indikator Kinerja Utama (IKU) yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Sementara itu, menurut Wakil Dekan Bidang 2 Fisip UB, Dr Ahmad Imron Rozuli, adanya SDGs UB ini tetap memberikan prioritas kearifan lokal di masing-masing desa. Kearifan lokal tersebut yang akan dikembangkan.
“Dengan tagline SDGs UB Inovasi, Akselerasi dan Kolaborasi, tentu kita berharap ini sebagai motor penggerak desa yang melibatkan berbagai aspek keilmuan di UB Malang,” ujarnya. [dan/air]






