Ponorogo (beritajatim.com) – Mimpi besar tak seharusnya dikandaskan oleh keadaan. Inilah yang diyakini Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, saat memutuskan menanggung biaya kuliah Avan Ferdiansyah Hilmi, putra penjual es keliling yang lolos ke Institut Teknologi Bandung (ITB).
Avan tak sekadar lulus. Lulusan SMAN 1 Ponorogo itu, diterima melalui jalur bergengsi Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Hal tersebut menandakan bahwa kemampuannya bukan biasa-biasa saja. Tapi di balik senyum pemuda 19 tahun itu, ada gelisah yang lama disimpan. Biaya kuliah dan hidup di Kota Kembang terlalu berat bagi keluarga sederhana di Jalan Bali, Kelurahan Mangkujayan, Ponorogo tersebut.
“Kita tidak boleh membiarkan anak seperti Avan menyerah karena keadaan,” kata Kang Giri, sapaan akrab Sugiri Sancoko, ditulis Selasa (15/7/2025).
Avan dan keluarganya pun diundang Bupati Sugiri ke Pringgitan, rumah dinasnya pada Minggu (13/7/2025). Dalam pertemuan itu, suasana haru tak bisa dibendung. Mata Avan, ibunya Umi Latifah, dan ayahnya Eko Yulianto tampak berkaca-kaca. Mimpi yang sempat nyaris patah, kini mendapat pijakan yang kokoh. Hal itu terlihat di video di media sosial (medos) Bupati Sugiri Sancoko.
“Kalau saya jadi orang tua Avan, mungkin juga akan pesimis. Tapi kita tidak boleh membiarkan anak seperti dia mundur. Kita bantu. Kita dukung,” tegas Kang Giri.
Tak tanggung-tanggung, Pemkab Ponorogo melalui inisiatif pribadi Bupati Sugiri akan menanggung kebutuhan Avan selama berkuliah di ITB. Mulai dari UKT senilai Rp 12,5 juta, biaya hidup di Bandung, hingga keperluan pendukung lainnya. Kang Giri menegaskan bahwa ini bukan sekadar pertolongan satu kali. Tapi bentuk komitmen pemerintah daerah untuk hadir bagi anak-anak berprestasi dari keluarga kurang mampu.
“Untuk mahasiswa asal Ponorogo yang berprestasi, kita sudah siapkan program beasiswa. Tapi kasus Avan adalah panggilan moral. Dia harus berangkat dengan kepala tegak, bukan dengan rasa minder,” ungkap Bupati yang dikenal dekat dengan warganya itu.
Kehadiran Kang Giri dan istrinya, Susilowati, dalam pertemuan itu menjadi simbol bahwa pemerintah ingin hadir secara utuh, bukan hanya secara administratif.
“Yang penting sekarang Avan bisa fokus belajar. Urusan biaya, Pemkab yang urus,” pungkas Bupati Sugiri.
Di balik puluhan piala dan prestasi akademik yang diraihnya sejak sekolah dasar, Avan menyimpan beban mental. Dia pun waktu di bangku SMA bolak-balik ke guru Bimbingan Konseling (BK). Ya, konsultasi tentang keinginannya untuk kuliah di ITB dan permasalahan biayanya.
“Alhamdulillah, maturnuwun Kang Giri dan ibu atas bantuannya. Alhamdulillah bisa berangkat dengan tenang,” kata Avan.
Umi Latifah, sang ibu, berkisah bahwa dirinya sempat panik ketika pengumuman ITB keluar. Dia tak menyangka bahwa keberhasilan anaknya justru menimbulkan kecemasan baru soal biaya.
“Saya sempat takut. Kalau tidak ada bantuan, mungkin kami mundur. Terlalu berat buat kami. Tapi alhamdulillah, Bapak Bupati hadir di saat yang kami butuhkan,” ungkapnya lirih. [end/aje]






