Surabaya (beritajatim.com) – Menjelang bertambahnya usia Persebaya ke 96 tahun yang jatuh pada 18 Juni besok, pendukung Persebaya alias Bonek juga terus berbenah. Salah satunya, adalah mengantisipasi aksi menyalakan flare atau kembang api yang masih menjadi momok di setiap akhir pertandingan.
Husin Ghozali, salah satu koordinator suporter dari Tribun Green Nord mengatakan, imbauan agar tidak membawa flare ke dalam stadion, terus ia dengungkan bersama koordinator suporter lain. Hal ini dikarenakan suporter tidak ingin menambah beban manajemen dengan mendapatkan sanksi atau denda dari PSSI.
“Kami tentu tidak ingin tim Persebaya mendapatkan denda dan sanksi karena menyalakan flare, maka saya memberikan imbauan. Yang pasti, kami sudah melakukan sosialisasi untuk tidak melakukan seperti sebelumnya,” ungkapnya.
Sementara itu, sejak musim lalu, empat tribun Persebaya Green Nord, Gate Jhoner 21, Tribun Kidul, dan Tribun Timur mulai mengkampanyekan no flare, no petasan, no kembang api, no smoke bombs, sampai no racism. “Menyalakan flare, kembang api, petasan, smoke bombs, dan rasisme adalah musuh kita bersama,”ucap Cak Cong, Sabtu (17/6/2023)
Hal sendana diungkapkan Syaiful Ulum yang berharap para suporter ini lebih tertib untuk mensuport tanpa harus melakukan aturan yang ditetapkan dengan larangan salah satunya menyalakan flare saat pertandingan dan akhir pertandingan.
“Kadang suka sedih sama suporter yang masih bandel dengan membawa flare sembunyi-sembunyi lalu dinyalakan tentu hal itu merugikan semua aspek,”ungkapnya.
Diketahi dalam regulasi, BRI Liga 1 2022/2023, diatur besaran denda flare. Satu kali penyalaan flare dan sejenisnya denda Rp 50 juta. Penyalaan kedua, ketiga, dan seterusnya, bersifat akumulatif dan bisa mencapai Rp 200 juta untuk satu pertandingan.(way/kun)
BACA JUGA:






