Blitar (beritajatim.com) – Pemerintah pusat kini tengah fokus terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Kedua program tersebut pun seolah mengalihkan fokus program lain yakni kualitas pendidikan dan kesejahteraan tenaga pendidik.
Melihat kondisi itu, anggota DPRD Jawa Timur Jairi Irawan pun menggelar agenda pelatihan guru di Blitar. Jairi menegaskan bahwa transformasi pendidikan tidak boleh kalah pamor dari isu pemenuhan gizi nasional.
Dalam agenda pelatihan guru yang digelar di Blitar, legislator tersebut memperkenalkan konsep Deep Learning 2025, sebuah model pembelajaran yang disebutnya sebagai upaya mengisi hati setelah urusan isi perut tertangani.
Menurut Jairi, kurikulum 2025 harus bertumpu pada tiga pilar utama yakni meaningful (bermakna), joyful (menyenangkan), dan pemahaman mendalam terhadap lingkungan sosial.
“Pembelajaran itu tidak hanya mengisi otak anak didik kita, tetapi bagaimana mereka punya makna dan kebahagiaan. Belajar bukan hanya urusan kognitif, tapi pemahaman masyarakat agar ilmu di sekolah bisa diterapkan di kehidupan nyata,” ujar Jairi di hadapan sekitar 125 guru peserta pada Minggu (26/4/2026).
Heri tidak menampik bahwa isu MBG dan KDMP saat ini sangat seksi dan menyedot perhatian publik. Namun, ia mengingatkan bahwa peningkatan gizi anak-anak akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan peningkatan kompetensi guru secara berlanjut.
“DPRD Jatim harus mencari penyeimbangnya. Jika pusat menguatkan gizi, maka kita di daerah harus meningkatkan kompetensi guru,” tegasnya.
Ketua DPD Golkar Tulungagung tersebut berkomitmen untuk menggelar pelatihan serupa secara reguler, tidak hanya di Blitar, namun merambah ke wilayah lain seperti Tulungagung.
Sementara itu, Ketua IGI Jawa Timur, Sukari, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk kolaborasi antara legislatif dan komunitas guru. Ia menekankan bahwa peningkatan kapasitas tenaga pendidik harus selaras dengan arah kebijakan pemerintah, termasuk dalam penerapan kurikulum berbasis KKA dan pendekatan pembelajaran mendalam.
“Blitar kami pilih agar guru dari wilayah kota maupun kabupaten memiliki kesempatan yang setara untuk memahami dinamika kebijakan pendidikan, terutama terkait digitalisasi,” jelasnya. [owi/suf]






