Jakarta (beritajatim.com) – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI mewajibkan ribuan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026 untuk menguasai kemampuan bahasa Arab praktis guna memastikan koordinasi layanan di Arab Saudi berjalan tanpa hambatan komunikasi. Program penguatan bahasa ini menjadi agenda prioritas dalam Pendidikan dan Latihan (Diklat) PPIH yang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, untuk membekali petugas dalam berinteraksi dengan otoritas bandara, pengelola hotel, hingga askar (penjaga) di tanah suci.
Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menegaskan bahwa penguasaan bahasa lokal merupakan instrumen penting bagi petugas yang akan menghadapi jemaah dan mitra kerja dengan latar belakang bahasa yang beragam. Menurutnya, pemahaman bahasa Arab akan menjadi jembatan utama untuk mempercepat solusi jika terjadi kendala teknis di lapangan.
“Petugas haji selama di tanah suci, kita akan bertemu dan berkomunikasi dengan orang dengan bahasa yang berbeda-beda. Paling tidak bahasa Arab ini akan memudahkan kita dalam berbicara dengan orang Arab di sana,” ujar Dahnil Anzar Simanjuntak usai memberikan pengarahan di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Dalam sesi pelatihan, narasumber utama Ustaz Imam Wahyudi menekankan materi pada penggunaan angka dan istilah teknis terkait tugas dan fungsi (tupoksi) petugas. Penguasaan angka dianggap krusial karena petugas akan terus bersinggungan dengan data jumlah porsi makan, nomor bus, nomor kamar hotel, hingga petunjuk jalan di Makkah dan Madinah.
Layanan ini menjadi sangat krusial bagi petugas, termasuk mereka yang mendampingi jemaah dari wilayah Jawa Timur melalui Embarkasi Surabaya, saat harus bernegosiasi mengenai mobilisasi jemaah. Ustaz Imam yang merupakan alumnus S2 Khartoum International Institute for Arabic Language ini menjelaskan bahwa petugas diajarkan perbedaan antara bahasa formal (Fusha) dan bahasa keseharian (Ammiyah) agar lebih akrab dengan warga lokal.
“Mayoritas orang di sana berinteraksi menggunakan bahasa Arab. Apalagi kita sebagai umat Islam, menguasai bahasa Arab adalah bagian dari semangat ber-Islam. Memahami Ammiyah penting untuk mengakrabkan diri dengan orang lokal di sana,” kata Ustaz Imam Wahyudi.
Metode pembelajaran yang diterapkan jauh dari kesan membosankan karena berfokus pada percakapan (muhadatsah) langsung, bukan sekadar teori tata bahasa. Petugas diajak untuk menghafal kosakata dasar, mengucapkannya secara lisan, hingga merangkai kalimat sederhana yang sering muncul dalam pelayanan haji, seperti bertanya arah atau melakukan koordinasi administratif.
Abu Bakar Sidik, salah satu peserta diklat yang bertugas di layanan lansia dan disabilitas, mengakui bahwa materi praktis ini sangat membantu untuk menunjang gerak cepat petugas di lapangan. Ia menilai tanpa penguasaan bahasa, koordinasi dengan petugas transportasi atau pihak hotel bisa terhambat sehingga berdampak pada kenyamanan jemaah.
“Sangat penting sekali karena kita akan berkoordinasi dengan banyak pihak di sana, seperti petugas bandara, transportasi bus, dan hotel. Jika kita tidak menguasai bahasa Arab, komunikasi akan terhambat dan koordinasi pelayanan bisa menjadi lambat,” ungkap Abu Bakar Sidik di sela-sela latihan.
Antusiasme peserta diklat terlihat tinggi dengan tingkat penyerapan materi yang mencapai 50 hingga 100 persen. Kehadiran beberapa peserta berlatar belakang doktor di bidang bahasa Arab dan syariah juga membantu tutor dalam mempercepat pemahaman kelompok agar seluruh petugas siap siaga saat operasional haji 2026 dimulai. [ian/aje]






