Surabaya (beritajatim.com) – Sementara banyak Muslim merayakan Idulfitri, ada sebagian dari mereka yang ternyata tak bisa merasakan kebahagiaan. Mereka masih harus berjuang demi memenuhi kebutuhan hidup di tengah hari yang istimewa.
Di antara mereka yang sayangnya tidak dapat merayakan Hari Raya dengan bebas adalah Ikwan berusia 10 tahun yang berasal dari Malaysia, yang harus mengelola warung sayur sendiri untuk membantu menafkahi keluarganya.
Dikutip dari World of Buzz, seorang pemilik restoran bernama Ernest Ong yang saat itu dalam perjalanan melihat Ikhwan, ia pun kemudian membagikan kisah Ikhwan ke halaman Facebook-nya.
“Selama beberapa hari terakhir, saya memperhatikan anak laki-laki kecil ini yang telah tidur di bawah meja dan merawat kios sayur tanpa pengawasan orang dewasa. Saya sedang dalam perjalanan pulang hari ini (3 Mei) jam 5 sore, saya melihatnya tidur di bawah pohon. Saya parkir dan pergi untuk berbicara dengannya untuk memeriksa apa yang sedang terjadi, jika saya bisa membantu.”
Saat Ong berbicara dengan Ikhwan, ia pun menjelaskan mengapa dirinya bisa sendirian menjaga warung sayur meski itu Hari Raya.
“Namanya Ikwan, umurnya 10 tahun. Ayahnya ternyata bekerja di Pasar Selayang. Ibunya merawat bayinya di rumah. Mereka menginap di Sungai Penchala. Mereka akan menjemputnya malam ini, tapi dia tidak tahu jam berapa,” ujar Ong di unggahannya,
“Saya perhatikan dia tidak punya makanan, jadi saya bertanya apakah dia sudah makan. Dia bilang dia makan di pagi hari jam 11 pagi dan dia lapar,” tambahnya.
Ernest Ong menawarkan untuk membelikan anak laki-laki itu makanan, dan dia meminta nasi dengan ayam. Karena toko-toko tutup selama musim liburan, Ernest berhasil membelikan anak itu McDonald’s sebagai gantinya. Ernest kemudian mengambil kesempatan untuk menemani bocah itu sambil makan.
“Saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi karena saya tidak sempat berbicara dengan orang tua. Mereka mungkin mengalami masa sulit, saya tidak tahu. Tapi untuk anak 10 tahun menghabiskan Hari Raya di persimpangan jalan mencoba menjual sayuran tanpa ada yang membeli sama sekali hari ini sangat memilukan,” kata Ernest.
Dia sejak itu mendesak orang lain di daerah itu untuk menunjukkan dukungan mereka untuk bocah lelaki itu.
“Paling tidak yang bisa kita lakukan adalah memasang senyum di wajahnya. Jika Anda melewati masjid TTDI, Anda akan melihat dia ada di sudut. Kadang tidur di bawah pohon atau di bawah meja. Pasang senyum di wajahnya. Beberapa kue atau pernak-pernik Raya akan menyenangkan, ”
“Jika ada yang bisa berbicara dengan orang tua, tolong bagikan kontak mereka dengan saya. Saya ingin membantu jika mendesak,” tambahnya, sambil mengucapkan Selamat Hari Raya kepada anak kecil itu.
Sungguh miris mengetahui ada anak-anak di luar sana yang harus bekerja dan memikul beban seperti itu, terutama saat hari raya keagamaan yang seharusnya mereka rayakan.
“Saya berharap banyak orang baik yang juga akan berhenti dan membeli sayuran anak laki-laki itu,” pungkas Ernest Ong. (adg/beq)






